Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia dinilai sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia, meski dinamika kondisi geopolitik global yang saat ini terjadi.
Di tengah (kondisi) geopolitik itu melahirkan ketidakpastian terhadap seluruh pasokan energi global. Dan dunia hampir semua merasakan dampak ini. Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabenenya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,”
kata Bahlil dalam keterangannya, dikutip Jumat, 1 Mei 2026.
Prestasi tersebut berdasarkan laporan Eye on the Market yang dikeluarkan oleh JP Morgan Asset Management. Dalam laporan tersebut menganalisis 52 negara atau konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia. Sementara Indonesia menempati posisi kedua, di bawah Afrika Selatan.
Indonesia dianggap sebagai negara yang tahan krisis energi yang terjadi saat ini karena produksi domestik minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar.
Indonesia Bisa Penuhi Kebutuhan Energi Dalam Negeri
Ketahanan terhadap krisis juga disebabkan produksi dan cadangan batu bara Indonesia yang masih dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain itu, potensi energi baru dan terbarukan yang besar di seluruh wilayah Indonesia juga mampu menopang kemandirian energi Indonesia.
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan dari subsektor migas ketahanan energi didukung oleh pencapaian lifting minyak Indonesia pada 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Tahun ini target ditingkatkan menjadi 610 ribu bph.
Untuk meningkatkan produksi lifting, Pemerintah pun mendorong optimalisasi produksi melalui teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, dan eksplorasi potensi migas di Indonesia Timur.
Temuan terbaru, hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, mengungkap adanya potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan ENI dan Sinopec.
Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029,”
ujarnya.
Efisiensi dan Pengembangan Bahan Bakar Alternatif
Tidak hanya lifting migas, Pemerintah juga terus berupaya untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), melalui pengembangan Biodiesel 50 persen (B50), yang akan diimplementasikan secara nasional pada 1 Juli 2026 mendatang. Hal ini, klaimnya akan berdampak signifikan pada pengurangan impor BBM nasional.
Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor,”
beber Bahlil.
Upaya pengurangan impor juga dilakukan untuk LPG, dengan mencari berbagai substitusi, di antaranya Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG) yang saat ini sedang dikaji Pemerintah.
CNG sendiri sudah banyak dimanfaatkan oleh berbagai industri, seperti perhotelan, restoran, dan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), yang bahan bakunya diperoleh dari dalam negeri.


