Senat Amerika Serikat (AS) menyetujui, Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) baru. Penetapan ini terjadi di tengah upaya Presiden Donald Trump untuk menurunkan suku bunga meski data inflasi terbaru memperumit alasan untuk pemangkasan suku bunga.
Dilansir dari CNBC Kamis, 14 Mei 2026, dalam pemungutan suara paling kontroversial sepanjang sejarah untuk posisi Ketua The Fed. Warsh terpilih untuk menggantikan Jerome Powell, yang telah menjabat sejak 2018 dan masa jabatannya akan berakhir pada Jumat.
Senat melakukan pemungutan suara dengan hasil 54 banding 45 untuk mengesahkan Warsh, mengakhiri proses berbulan-bulan yang dimulai sejak musim panas 2025 dan mencakup pencarian panjang pengganti Powell.
Voting di Senat berlangsung hampir sepenuhnya mengikuti garis partai, dengan hanya Senator Partai Demokrat asal Pennsylvania John Fetterman yang memberikan dukungan kepada Warsh.
Ketua The Fed ke-11

Warsh akan menjadi Ketua Fed ke-11 di era perbankan modern AS. Meski Powell tak lagi menjabat sebagai ketua. Namun, dia akan tetap berada di Fed karena masih memiliki dua tahun masa jabatan sebagai gubernur bank sentral.
Powell pada bulan lalu menyatakan, akan tetap bertahan setidaknya sampai investigasi renovasi kantor pusat The Fed selesai. Terakhir kali mantan Ketua The Fed kembali menjadi anggota dewan gubernur terjadi hampir 80 tahun lalu.
Di samping itu, Trump secara terbuka berharap agar Warsh menurunkan suku bunga setelah berulang kali mengkritik Powell atas kebijakan moneter yang menurut presiden terlalu ketat.
Dalam proses pencarian Ketua The Fed baru, nama Warsh bersaing dengan sejumlah kandidat lain termasuk Gubernur saat ini Christopher Waller dan Michelle Bowman.
Konfirmasi Senat atas Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya merupakan langkah positif menuju pemulihan akuntabilitas, kompetensi, dan kepercayaan dalam pengambilan keputusan The Fed,”
kata juru bicara Gedung Putih Kush Desai.
Inflasi Masih Tinggi

Kendati demikian, pengesahan Warsh terjadi di tengah laporan terbaru bahwa inflasi AS masih jauh di atas target The Fed yang sebesar 2 persen. Kemudian tekanan harga ditingkat produsen meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga, dan bahkan memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.
Anggota DPR AS dari Partai Republik asal Arkansas, French Hill memuji rekam jejak Warsh dalam menjaga stabilisasi harga dan mengendalikan inflasi.
Ketua Warsh berulang kali menekankan pentingnya keterjangkauan dan stabilitas harga sebagai pusat agenda ekonomi kita. Komitmennya terhadap kebijakan moneter disiplin akan membantu memulihkan kepercayaan pada ekonomi dan mendukung kemakmuran jangka panjang,”
ujar Hill.

