Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal I-2026 sebesar US$4 miliar atau setara Rp70,8 triliun (asumsi Rp17.717 per dolar AS) atau 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit ini melebar dari kuartal sebelumnya yang sebesar US$2,5 miliar atau 0,7 persen.
Defisit transaksi berjalan ini utamanya dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang di tengah penyempitan defisit neraca jasa.
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus meskipun lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara,”
kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya Jumat, 22 Mei 2026.
Defisit Transaksi Migas Turun
Denny mengatakan, defisit neraca perdagangan migas tercatat menurun di tengah aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon atau bunga. Sementara itu, kinerja neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight.







