Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak amblas pada penutupan perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Nilai tukar melemah 0,84 persen ke Rp18.188 per dolar Amerika Serikat (AS), dan IHSG anjlok 4,52 persen ke level 5.342.
Berdasarkan pantauan Owrite.id, rupiah sempat menyentuh level Rp18.200 per dolar AS pada pukul 2.57 WIB. Sedangkan untuk nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp21,7 triliun, dengan melibatkan 32,5 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi.
5 Saham Paling Banyak Dijual Asing
Dilansir dari Stockbit, ada lima saham yang paling banyak dijual asing atau net foreign sell diantaranya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp1,13 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebanyak Rp1,1 triliun.
Kemudian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) senilai Rp235,70 miliar, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) sebanyak Rp169,85 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp110,79 miliar.

Sebelumnya, Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan anjloknya IHSG dan rupiah karena kondisi geopolitik yang memanas di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran. Kemudian juga berasal dari kemungkinan Bank Sentral AS atau the Fed mempertahankan suku bunga tinggi di tahun ini.
Ada kemungkinan Iran akan melakukan penyerangan terhadap Israel. Nah, dari informasi itu membuat dolar menguat, kemudian harga minyak juga naik,”
kata Ibrahim.
Investor Khawatir Neraca Berjalan RI

Dari sisi internal, Ibrahim mengkhawatirkan kondisi neraca berjalan RI di tengah kenaikan harga minyak mentah. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diperkirakan akan mendekati batas 3 persen.
Kalau neraca berjalan terpengaruh, berarti akan memengaruhi defisit anggaran. Defisit anggaran kemungkinan besar akan mendekati 3 persen,”
terangnya.
Ibrahim juga menyoroti, inflasi RI yang terus mengalami kenaikan, dan diperkirakan pada Juni akan terkerek naik. Kemudian menyempitnya surplus perdagangan April yang hanya sebesar US$89,1 juta, dan penurunan peringkat utang Danantara oleh Moody’s.
Amblasnya nilai tukar dan IHSG juga disebabkan oleh isu bahwa Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan menurunkan saham-saham di pasar modal dari emerging market menjadi frontier market.



