Gelombang kenaikan harga bahan pokok yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan, mulai memicu kekhawatiran baru terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Setelah harga BBM nonsubsidi melonjak tajam, sejumlah komoditas penting seperti beras, bawang putih, minyak goreng, telur, hingga cabai ikut merangkak naik dan menekan daya beli warga.
Pengamat ekonomi Febryan Wishnu mengatakan, lonjakan harga pangan yang terjadi saat ini bukan sekadar gejala musiman yang rutin muncul setiap tahun. Namun, fenomena tersebut menunjukkan rapuhnya sistem pangan nasional yang hingga kini masih rentan terhadap berbagai tekanan.
Lonjakan harga kebutuhan pokok yang terjadi secara bersamaan, beras, minyak goreng, telur, cabai, bukan fenomena musiman biasa. Ini adalah sinyal dari sistem pangan dan distribusi kita yang masih sangat rentan terhadap guncangan, baik dari sisi global maupun domestik,”
kata Febryan kepada Owrite.id, Minggu, 14 Juni 2026.
Faktor yang Pengaruhi Harga Pangan
Dosen terbang di beberapa kampus ini menjelaskan, tekanan terhadap harga pangan memang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari gejolak harga komoditas dunia, perubahan iklim yang mengganggu produksi pertanian, hingga pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat biaya impor semakin mahal.
Dan kerentanan itu bukan tiba-tiba muncul, ia adalah akumulasi dari kebijakan pangan jangka panjang yang tidak pernah benar-benar tuntas,”
ujarnya.
Febryan mengingatkan dampak kenaikan harga pangan tidak dirasakan secara merata. Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan, karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Ketika mereka tidak punya ruang untuk bernapas secara ekonomi, konsekuensinya bukan hanya angka kemiskinan yang naik, tapi juga daya tahan sosial masyarakat yang perlahan melemah,”
tegasnya.
Kenaikan Harga Pangan jadi Krisis Kesejahteraan

Febryan menilai, pemerintah perlu segera bergerak lebih serius untuk mencegah tekanan harga berubah menjadi krisis kesejahteraan yang lebih luas. Salah satu langkah yang dianggap mendesak adalah melakukan reformasi menyeluruh terhadap tata kelola pangan nasional.
Febryan menyebut penguatan peran Bulog sebagai penjaga stok nasional, pembangunan infrastruktur pertanian dan irigasi, perlindungan terhadap petani kecil, hingga penyediaan data pangan yang akurat harus menjadi prioritas utama.
Semua ini bukan hal baru, sudah lama dibicarakan. Yang kurang bukan idenya, tapi keberanian dan konsistensi untuk mengeksekusinya,”
tutupnya.



