Bank Indonesia (BI) mencatat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 ada di level optimis sebesar 122,9, namun turun dari sebelumnya yang sebesar 125,2. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 130,4, atau turun dari bulan sebelumnya sebesar 134,4.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan penurunan IKK merupakan sinyal kehatian-hatian konsumen, bukan tanda bahwa konsumsi rumah tangga anjlok. Menurutnya IKK masih berada di atas batas optimis 100.
Penurunan IKK Maret 2026 perlu dibaca sebagai sinyal kehati-hatian konsumen, bukan tanda bahwa konsumsi rumah tangga sudah melemah tajam. Dalam Survei Konsumen Bank Indonesia, IKK Maret turun dari 125,2 pada Februari menjadi 122,9, tetapi masih jauh di atas batas optimis 100,”
ujar Josua saat dihubungi Owrite.id Kamis, 30 April 2026.
Josua menerangkan, penurunan utamanya berasal dari pelemahan ekspektasi enam bulan ke depan, karena turunnya IEK. Namun, untuk indeks kondisi ekonomi saat Ini hanya turun tipis dari 115,9 menjadi 115,4.
Artinya, konsumen belum pesimis terhadap kondisi hari ini, tetapi mulai lebih hati-hati melihat kondisi ke depan,”
tuturnya.
Menurutnya, bila dikaitkan dengan konsumsi rumah tangga, penurunan IKK belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi sudah melambat secara luas. Sebab, data BI menunjukkan porsi pendapatan untuk konsumsi naik dari 71,6 persen pada Februari menjadi 72,2 persen pada Maret.
Sedangkan porsi cicilan turun dari 10,6 persen menjadi 10,2 persen, dan porsi tabungan relatif stabil di sekitar 17,6 persen. Hal ini menunjukkan rumah tangga masih membelanjakan pendapatannya, terutama karena faktor Ramadan dan Lebaran.

Bantal Keuangan Mulai Tipis
Kendati demikian, Josua menyebut ada sinyal bahwa bantalan keuangan rumah tangga mulai menipis. Sebab, berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Indeks Menabung Konsumen turun 3,9 poin menjadi 79,5 pada Maret 2026.
Penurunan ini terjadi karena kemampuan dan kemauan menabung melemah, seiring kebutuhan belanja Idul Fitri dan kenaikan pengeluaran tak terduga. LPS juga mencatat indeks kepercayaan konsumen versinya turun dari 98,8 menjadi 91,8, terutama karena persepsi terhadap ekonomi lokal dan lapangan kerja saat ini melemah,”
terangnya.
Adapun faktor yang menekan persepsi konsumen berupa kenaikan harga bahan pokok, sulitnya lapangan kerja, harga jual panen yang turun, panen gagal, mahalnya pupuk, banjir, serta kenaikan tarif angkutan antarkota.
Jadi, meskipun data BI masih menunjukkan optimisme, data LPS memberi peringatan bahwa sebagian kelompok rumah tangga, terutama menengah bawah, mulai merasakan tekanan likuiditas dan biaya hidup,”
tegasnya.

Keyakinan Konsumen April Diramal Turun
Di samping itu, Josua memperkirakan IKK di April 2026 akan turun meski berada di zona optimis. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi per 18 April akan lebih dulu memengaruhi psikologi konsumen, terutama kelompok menengah, pengguna kendaraan pribadi, pelaku usaha kecil yang menggunakan BBM nonsubsidi, serta sektor yang sensitif terhadap biaya transportasi dan logistik,”
terangnya.
Untuk dampak langsung ke konsumsi rumah tangga, Josua menilai relatif terbatas karena harga BBM subsidi tidak naik. Akan tetapi, dampak tidak langsungnya akan terasa melalui ongkos angkut, harga barang, tarif perjalanan, dan persepsi bahwa tekanan biaya hidup ke depan bisa meningkat.
Dengan demikian, indeks keyakinan konsumen di April diperkirakan akan melemah terbatas ke kisaran 119 hingga 122. Namun, pelemahan bisa lebih dalam bila rupiah terus anjlok dan harga pangan tetap tinggi.
Jika kenaikan BBM nonsubsidi diikuti pelemahan rupiah dan harga pangan yang tetap tinggi, tekanannya bisa lebih besar dan IKK berpotensi mendekati 118. Tetapi jika pemerintah mampu menjaga harga pangan, pasokan energi, dan komunikasi kebijakan, penurunannya kemungkinan tetap terkendali,”
jelasnya.

Lebih lanjut, Josua mengatakan dampak kenaikan BBM nonsubsidi terhadap IKK kemungkinan lebih besar pada ekspektasi, daripada kondisi saat ini. Sebab, konsumen biasanya lebih cepat menurunkan penilaian terhadap prospek ekonomi ketika melihat harga energi naik, walaupun pendapatannya belum turun.
Ini karena energi dianggap sebagai harga dasar yang dapat menular ke banyak kebutuhan lain,”
tuturnya.
Ia menjelaskan, dampak harga minyak menunjukkan sektor transportasi darat, jasa pertanian, transportasi udara, transportasi laut, plastik, karet, bahan kimia, cat, tinta cetak, farmasi, dan kosmetik memiliki paparan biaya energi dan bahan baku yang cukup besar.
Artinya, jika harga energi bertahan tinggi, konsumen akan mengantisipasi kenaikan harga barang dan jasa yang lebih luas. Inilah alasan mengapa kenaikan BBM nonsubsidi bisa menekan keyakinan konsumen lebih cepat daripada data konsumsi aktual,”
imbuhnya.


