Kesulitan PT PLN (Persero) memperoleh pasokan batu bara kalori sedang dinilai bukan semata-mata akibat keterbatasan produksi nasional. Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia.
Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai persoalan tersebut muncul karena adanya ketidaksesuaian antara jenis batu bara yang diproduksi, dengan kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN.
Paradoks ini sebenarnya klasik, kita kaya batu bara, tapi tidak semua jenis batu bara sesuai kebutuhan domestik, khususnya spesifikasi PLTU PLN yang banyak dirancang untuk medium calorific coal,”
kata Ronny pada Owrite, Jumat, 19 Juni 2026.
Produsen Fokus ke Batu Bara Kalori Tinggi


Menurut Ronny, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan pasokan batu bara kalori sedang untuk PLN menjadi terbatas. Pertama, banyak produsen yang lebih berfokus memproduksi batu bara kalori tinggi maupun rendah sesuai permintaan pasar ekspor.
Kedua, insentif ekonomi yang lebih besar di pasar internasional membuat perusahaan tambang cenderung mengalokasikan produksi terbaiknya untuk kebutuhan ekspor.
Perusahaan cenderung mengalokasikan produksi terbaiknya ke pasar ekspor yang lebih menguntungkan,”
ujarnya.
Selain itu, masalah logistik dan kontraktual juga menjadi tantangan. Ronny menilai tidak semua pasokan domestik didukung kontrak jangka panjang yang kuat sehingga rentan terganggu ketika terjadi gejolak di pasar global.
Di sisi lain, Ronny menilai kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang selama ini diterapkan pemerintah pada dasarnya telah memiliki tujuan yang tepat untuk menjamin kebutuhan batu bara dalam negeri. Namun, implementasinya dinilai belum sepenuhnya efektif.
DMO secara konsep sudah benar, menjamin pasokan dalam negeri. Tapi implementasinya belum sepenuhnya efektif. Masalahnya bukan di policy intent, tapi di enforcement dan design,”
ujarnya.
Harga DMO Terlalu Rendah
Ia menjelaskan, harga DMO yang ditetapkan jauh di bawah harga pasar menjadi salah satu penyebab kebijakan tersebut belum berjalan optimal. Kondisi itu, membuat produsen menghadapi insentif ekonomi yang lebih rendah ketika memasok kebutuhan domestik dibandingkan pasar ekspor.
Ketika harga DMO jauh di bawah harga pasar, maka secara alami akan muncul compliance fatigue dari produsen. Jadi DMO berjalan, tapi tidak optimal dalam menjamin kualitas dan kontinuitas pasokan yang dibutuhkan PLN,”
beber Ronny.
Selain itu, menurut dia, perbaikan desain dan pengawasan pelaksanaan DMO menjadi kunci agar kebijakan tersebut mampu menjamin ketersediaan pasokan batu bara yang sesuai kebutuhan PLN secara berkelanjutan.

























