Penurunan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir kembali memunculkan pertanyaan publik mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yang belum mengalami penyesuaian signifikan.
Di tengah tekanan ekonomi dan biaya operasional yang masih tinggi, sejumlah kalangan menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan yang lebih terbuka terkait alasan belum turunnya harga BBM.
Pengamat ekonomi kreatif Febryan Wishnu mengatakan, pemerintah memang memiliki pertimbangan fiskal yang tidak sederhana dalam menentukan kebijakan energi nasional.
Saya memahami kalkulasi pemerintah. Ketika harga minyak dunia turun, penerimaan negara dari sektor Migas ikut tergerus, sehingga ada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan fiskal,”
kata Febryan Wishnu saat dihubungi Owrite, Rabu, 24 Juni 2026.
Wishnu mempertanyakan sampai kapan masyarakat dan pelaku usaha harus menanggung harga energi yang tidak lagi mencerminkan kondisi pasar global.
Yang perlu kita pertanyakan adalah seberapa lama masyarakat dan ekosistem usaha kreatif harus menanggung harga energi yang tidak mencerminkan kondisi pasar?,”
tanya dia.
Menurutnya, selama ini terdapat ketimpangan dalam mekanisme penyesuaian harga. Ketika harga minyak dunia naik, dampaknya terhadap harga barang dan biaya hidup masyarakat berlangsung sangat cepat. Sebaliknya, saat harga minyak turun, manfaatnya tidak segera dirasakan.
Ketika harga minyak naik, transmisinya ke harga barang nyaris instan. Tapi ketika harga turun, transmisi ke bawah selalu lambat, bahkan sering tidak terjadi. Ini asimetri kebijakan yang tidak fair,”
tegasnya.
Dikatakan Wishnu, kondisi tersebut memberikan tekanan nyata terhadap pelaku ekonomi kreatif yang sangat bergantung pada biaya transportasi dan distribusi.
Mulai dari pekerja kreatif independen, pembuat konten digital, penyelenggara acara hingga pelaku UMKM yang memasarkan produknya secara daring disebut masih harus menanggung biaya operasional yang tinggi meski harga energi global sudah bergerak turun.
Jika pemerintah tidak merespons momentum ini dengan cara apa pun, maka kepercayaan pelaku usaha terhadap keberpihakan kebijakan energi akan terus erosi,”
ucapnya.
Wishnu menambahkan, kepercayaan publik terhadap pemerintah merupakan modal yang jauh lebih berharga dibandingkan keuntungan jangka pendek dari menahan penyesuaian harga energi.
Kepercayaan itu adalah aset yang jauh lebih mahal untuk dibangun kembali daripada sekadar selisih harga BBM per liter,”
jelasnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah mempertimbangkan skema penyesuaian harga secara bertahap yang disertai komunikasi publik yang jelas dan terukur.
Pemerintah perlu menunjukkan bahwa transmisi harga global ke masyarakat bukan hanya berlaku satu arah, hanya ke atas, tidak pernah ke bawah,”
tutup Wishnu.
Dikutip dari CNBC, Rabu, 24 Juni 2026, harga minyak mentah Brent patokan internasional, untuk kontrak berjangka Agustus turun 0,91 persen menjadi 76,38 dolar AS per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS untuk kontrak berjangka Agustus turun 0,94 persen menjadi 72,52 dolar AS per barel.






















