Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Mei 2026. Neraca dagang RI diperkirakan akan defisit, setelah surplus bulan sebelumnya mengalami penyusutan.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual memperkirakan neraca perdagangan akan mencatat defisit sebesar US$1,04 miliar. Kondisi ini didorong oleh penurunan ekspor maupun impor secara bulanan.
Neraca perdagangan defisit US$1,04 miliar. Secara bulanan ekspor maupun impor turun karena hari kerja di Mei jauh lebih sedikit dibandingkan April,”
ujar David saat dihubungi Owrite pada Rabu, 1 Juli 2026.
David memproyeksikan, ekspor Mei 2026 akan turun di angka 13,07 persen secara year on year (yoy), dan 15,44 persen secara bulanan month to month (mtm). Sedangkan impor sebesar 10,50 persen secara yoy, dan turun menjadi 10,98 persen secara mtm.
Komoditas ekspor naik harganya lebih tinggi batu bara dan metals, CPO stagnan di bulan Mei,”
jelasnya.
Namun, David mengatakan bahwa indikasi awal dari data negara-negara lain yang menjadi importir utama produk-produk Indonesia, ekspor akan cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor. Hal ini terutama untuk ekspor ke Malaysia, Thailand, dan China.
Diramal Surplus


Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede justru memperkirakan RI akan mengalami surplus sebesar US$1,13 miliar, dibandingkan April yang hanya US$0,09 miliar.
Namun, pelebaran surplus ini jangan dibaca terlalu optimistis karena penyebab utamanya adalah normalisasi impor setelah lonjakan pasca Lebaran pada April, bukan karena ekspor sedang kuat,”
ujar Josua kepada Owrite.
Josua meramal, ekspor pada bulan Mei akan turun 2,45 persen secara yoy, dan turun -5,11 persen mtm. Hal ini terutama akibat pelemahan harga batu bara, minyak sawit mentah, serta pelemahan permintaan dari China.
Lalu untuk impor, diperkirakan masih tumbuh 12,65 persen yoy, meskipun turun -9,25 persen mtm. Kondisi ini menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat, sekaligus memberi sinyal bahwa impor mulai tumbuh lebih cepat daripada ekspor.
Jadi, meskipun surplus perdagangan Mei membaik dibanding April, tren besarnya tetap mengarah pada penyempitan surplus perdagangan sepanjang 2026,”
terangnya.
Josua menuturkan, dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal maka kebutuhan konsumsi berpotensi tetap tinggi. Sedangkan ekspor masih tertekan oleh harga komoditas dan permintaan global yang lemah.
Kinerja Ekspor-Impor Loyo
Di samping itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro meramal surplus perdagangan Indonesia akan melebar menjadi US$451 juta pada Mei 2026. Dalam hal ini kinerja ekspor dan impor akan mengalami penurunan.
Ekspor diperkirakan mencapai US$24,3 miliar, turun 3,9 persen secara bulanan dan -1,2 persen secara tahunan. Sementara impor diproyeksikan turun lebih tajam sebesar 5,3 persen secara bulanan menjadi US$23,9 miliar, meskipun masih tumbuh 17,5 persen secara tahunan,”
kata Andry dalam keterangannya.
Andry menjelaskan, ekspor ke China tetap kuat dengan pertumbuhan 52,3 persen secara yoy, sementara ekspor ke Vietnam dan Taiwan juga meningkat masing-masing sebesar 10,2 persen yoy dan 25,1 persen yoy.
Sementara itu, impor diperkirakan akan turun tajam sebesar 5,3 persen mtm menjadi US$23,9 miliar. Namun, impor masih relatif kuat secara tahunan tumbuh sebesar 17,5 persen yoy, yang menunjukkan bahwa permintaan impor belum sepenuhnya melemah meskipun terjadi perlambatan bulanan.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan tetap surplus pada Mei 2026, didukung oleh ekspor komoditas yang tetap tangguh dan kontraksi impor bulanan yang lebih dalam,”
imbuhnya.
























