Harga minyak dunia turun pada awal perdagangan Jumat. Namun, harga minyak berpotensi mencatat kenaikan mingguan seiring Amerika Serikat (AS) dan Iran terus saling melancarkan serangan.
Dilansir dari CNBC, Jumat, 10 Juli 2026 harga minyak mentah Brent turun 6 sen atau 0,08 persen menjadi US$76,24 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 4 sen atau 0,06 persen menjadi US$72,04.
Untuk pekan ini, harga minyak Brent diperkirakan akan naik 6 persen, dan WTI diproyeksikan akan naik 5 persen. Adapun angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk pada Kamis, menyusul serangan AS terhadap provinsi-provinsi pesisir selatan dan timur Iran.
Terjadi Ledakan di Selatan Iran
Eskalasi ini semakin memperburuk gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga pekan. Secara terpisah, media Iran melaporkan terjadi beberapa ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Pertempuran yang kembali pecah itu terjadi pada hari ketika Iran memakamkan Pemimpin Tertinggi mereka yang tewas, Ayatollah Ali Khamenei. Prosesi pemakaman tersebut menjadi puncak dari rangkaian upacara dan aksi penghormatan massal selama sepekan, Khamenei dilaporkan tewas pada hari pertama perang, yakni 28 Februari.
Konflik ini telah menunda pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, sebuah jalur perairan penting yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global harian sebelum perang.
Meskipun AS meningkatkan serangan terhadap fasilitas militer di Iran, pasar mendapat sedikit jaminan dari keputusan pemerintahan Trump untuk menghindari menyerang infrastruktur energi Iran,”
kata Kepala Strategi Komoditas ANZ Bank Daniel Hynes.
Trump Klaim Tak Ingin Perang Lagi
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa ia tidak berpikir perang akan dimulai kembali, dan menyatakan bahwa apapun yang terjadi akan berakhir dengan sangat cepat.
Di AS, jumlah warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tetap berada dalam mode perekrutan yang lambat dan pemutusan hubungan kerja yang juga lambat.
Sementara di China, inflasi harga produsen melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun pada Juni. Kondisi ini menambah tekanan pada margin laba produsen, karena permintaan domestik membatasi kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga.























