Nilai tukar rupiah kembali melemah menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Selasa pagi, 4 Agustus 2026 rupiah melemah 0,17 persen atau 31 poin ke level Rp18.028 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan melemahnya rupiah karena saat ini investor sedang menantikan rilis beberapa data ekonomi besar baik dari dalam maupun luar negeri. Untuk Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026.
Investor cenderung wait and see menantikan beberapa data ekonomi besar baik dari dalam maupun luar yang akan dirilis pekan ini,”
kata Lukman saat dihubungi Owrite, Selasa, 4 Agustus 2026.
Lukman menuturkan, hasil rilis data ekonomi Indonesia kemarin memberikan sinyal beragam. Untuk data inflasi mendukung penguatan rupiah. Namun, defisit neraca perdagangan justru menekan nilai tukar rupiah.
Data kemarin memberikan sinyal beragam, inflasi yang menurun mendukung rupiah. Namun, defisit perdagangan menekan rupiah,”
tuturnya.
Melemah Terbatas
Meski demikian, Lukman memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas. Sebab, daya manufaktur AS yang lebih kuat dari ekspektasi pasar.
Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas oleh rebound pada dolar AS oleh data manufaktur AS yang lebih kuat dari ekspektasi,”
jelas Lukman.
Adapun untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.950 per dolar AS hingga Rp18.050 per dolar AS.























