Isu mengenai tiga perbankan asing besar yakni Standard Chartered, Citibank, dan HSBC menarik modal hingga Rp11,5 triliun dari Indonesia kembali mencuat di media sosial. Alasan ketiga bank ini menarik dana dari Indonesia disebut karena telah menjual bisnis ritelnya di Indonesia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai langkah beberapa bank asing menjual bisnis ritel di Indonesia lebih didorong oleh strategi bisnis global, bukan karena memburuknya prospek ekonomi domestik.
Jadi memang secara global strategi aja memang banyak asing lagi mau keluar di bisnis retail dari Indonesia. Karena memang bisnis retail itu kan sangat lokal ya, sedangkan bank asing itu memang jagonya biasanya di bisnis korporate gitu atau yang perusahaan menengah dan besar,”
ujar Dipo saat dihubungi Owrite Selasa, 4 Agustus 2026.
Sedangkan terkait penarikan dana oleh bank asing hingga Rp11,5 triliun. Dipo menilai bahwa fenomena tersebut lebih mencerminkan kondisi arus modal global yang sedang mengalami tekanan.
Kalau soal menarik dana mungkin ini lebih umum aja sih, jadi mungkin bukan karena si bank asing yang menarik dana tetapi memang secara umum capital itu memang outflow,”
terangnya.
Bukan Penyebab Rupiah Melemah


Dipo menilai, terus melemahnya rupiah hingga mencapai level Rp18.000 per dolar AS juga bukan karena isu tersebut. Ia menilai, melemahnya rupiah karena kepercayaan pasar terhadap kebijakan pemerintah dan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Ya kalau kita nggak ngelihat itu. Itu tetap masalah kepercayaan pasar sih maksudnya mungkin itu mengompori ya, tapi bukan ini yang utama gitu lebih masalah kepercayaan pasar aja sih,”
jelasnya.
Dipo menilai mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubenur BI, Danantara, dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi penyebab rupiah melemah. Kemudian pelemahan rupiah juga didorong oleh semakin sempitnya ruang fiskal.
Isu Ramai
Adapun pembahasan ini ramai melalui pernyataan dari Secretary General of the International Economic Association (IEA) Lili Yan Ing yang diunggah dalam video di akun TikTok resminya @liliyaning.official.
Dia menyebut total aliran dana yang ditarik mencapai US$640 juta atau setara Rp11,5 triliun karena ketiga bank asing menjual bisnis ritelnya di Indonesia.
Lili Yan Ing mengatakan Standard Chartered yang menjual produk pinjaman retail konvensional ke Bank Danamon pada Desember 2023. Sedangkan Citibank Indonesia yang menjual bisnis perbankan konsumer ke UOB Indonesia pada November 2023.
Sementara itu, HSBC Indonesia kata Lili Yan Ing telah menjual aset dan liabilitas retail banking dan wealth management kepada OCBC NISP.
Respons OJK


Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae juga sudah merespons kabar bank-bank asing mulai menarik dana dalam jumlah besar atau cash out dari Indonesia. Ia membantah kabar tersebut, dan menilai isu itu berlebihan.
Itu sebenarnya terlalu berlebih-lebihan ya, enggak bener itu sebetulnya. Kalau orang investasi di sini ya, investasi di Indonesia dia mengirimkan misalnya ke sana itu keuntungannya, ya itu kan sesuatu keharusan ya, maksudnya sesuatu yang wajar ya dilakukan,”
ujar Dian di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurutnya, saat investor asing sudah menanamkan modalnya di Indonesia, tentu keuntungannya investasi akan dikembalikan ke negara asal. Indonesia pun menganut sistem devisa bebas, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar.
Namanya orang namanya investasi duit gede di sini terus ada untung, ya boleh dong. Dan undang-undang kita jelas, Undang-Undang devisa bebas, kita lihat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 itu kan,”
terangnya.

























