Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai US$453,4 miliar atau setara Rp8.115,4 triliun (Kurs Rp17.844,75 per US$). Utang itu naik US$20 miliar atau 4,61 persen secara kuartalan (qtq) dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar US$433,4 miliar.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan utang itu didorong oleh kenaikan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral.
Posisi ULN Indonesia pada kuartal II-2026 tetap terjaga. Posisi ULN Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat sebesar US$453,4 miliar atau secara tahunan tumbuh 4,4 persen year on year (yoy). Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,”
kata Denny dalam keterangannya Selasa, 18 Agustus 2026.
Utang Pemerintah


Adapun posisi ULN pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar, atau tumbuh 2,9 persen secara yoy, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal I-2026 yang sebesar 3,8 persen secara yoy.
Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga,”
jelasnya.
Denny menuturkan, pemerintah sudah berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara prudent, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal.
Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN,”
terangnya.
Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat.
ULN Swasta


Sedangkan untuk posisi ULN swasta pada kuartal II-2026 sebesar US$194,6 miliar, atau mengalami kontraksi 0,6 persen secara yoy, lebih rendah dibandingkan kontraksi 1,3 persen yoy pada kuartal I-2026.
Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN lembaga keuangan (financial corporations) yang terkontraksi 3,4 persen yoy, lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi 6,3 persen yoy pada kuartal I-2026,”
jelasnya.
Denny menuturkan, ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7 persen terhadap total ULN swasta.
Dengan demikian, Denny menilai bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,6 persen pada kuartal II, dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1 persen dari total ULN.
Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,”
imbuhnya.





















