Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 27 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • KPK
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / 33 Tahun Terjebak di Kelas Menengah, Ini Alasan RI Belum Jadi Negara Maju
Ekonomi Bisnis

33 Tahun Terjebak di Kelas Menengah, Ini Alasan RI Belum Jadi Negara Maju

Nisa-OWRITEdusep-malik
Last updated: Agustus 27, 2026 6:20 pm
By
Anisa Aulia
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro...
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
2 jam lalu
Share
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. (Sumber: Bappenas)
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy. (Sumber: Bappenas)
SHARE

Indonesia hingga saat ini belum bisa lepas dari jebakan ekonomi pendapatan menengah. Bahkan selama 33 tahun RI belum bisa menjadi negara maju.

Daftar isi Konten
  • Kuat Tapi Belum Naik Kelas
  • Tak Boleh Abaikan Pemerataan

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai Indonesia sudah terlalu lama ada dalam ekonomi berpendapatan menengah.

Sejak tahun 1993, menurut catatan kami, Indonesia memang sudah keluar dari kategori pendapatan rendah, namun tetap belum bisa melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi,”

kata Rachmat dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Kamis, 27 Agustus 2026.
Baca juga:
Karhutla Kalimantan Bikin Malaysia Protes, Puan Minta Kemlu Segera Turun… Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan mulai memicu persoalan lintas negara.Malaysia…
Gempa NTT Bikin Layanan Kesehatan Kewalahan, Pasien Kritis Sempat Tak… Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengakui pasien kategori merah atau dalam…
Budi Arie 'Senggol' Percepatan Pemilu, PKS: Sebaiknya Jokowi Jelaskan agar… Juru Bicara PKS Pipin Sopian menilai wacana percepatan sebelum Pemilu 2029 yang…
  • Karhutla Kalimantan Bikin Malaysia Protes, Puan Minta Kemlu Segera Turun Tangan
  • Gempa NTT Bikin Layanan Kesehatan Kewalahan, Pasien Kritis Sempat Tak Tersentuh Nakes
  • Budi Arie 'Senggol' Percepatan Pemilu, PKS: Sebaiknya Jokowi Jelaskan agar Tak Jadi…

Kuat Tapi Belum Naik Kelas

Ketimpangan kota di DKI Jakarta. (Sumber: Unsplash/Iqro Rinaldi)
Ketimpangan kota di DKI Jakarta. (Sumber: Unsplash/Iqro Rinaldi)

Rachmat mengatakan, ekonomi Indonesia memang terbukti kuat menghadapi guncangan mulai dari krisis pada tahun 1998 hingga pandemi Covid-19. Namun, Indonesia belum juga bisa naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi. 

Krisis tahun 1998 ditambah krisis pandemi Covid-19 juga menunjukkan bahwa meskipun pondasi ekonomi kita kuat, namun kita tetap harus waspada terhadap berbagai guncangan ekonomi yang terjadi selama ini,”

jelasnya.

Rachmat menilai, pertumbuhan ekonomi tinggi dibutuhkan Indonesia. Pertumbuhan tersebut diperlukan untuk memperbesar kapasitas produksi nasional sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Pertumbuhan ekonomi tinggi diperlukan untuk memperluas kesempatan kerja, dan pertumbuhan ekonomi tinggi juga dibutuhkan agar daya saing industri kita terus meningkat,”

jelasnya.

Tak Boleh Abaikan Pemerataan

Petugas memotret identitas penerima bantuan sosial saat penyaluran beras dan MinyaKita di Kelurahan Sukamaju, Kota Depok, Jawa Barat
Petugas memotret identitas penerima bantuan sosial saat penyaluran beras dan MinyaKita di Kelurahan Sukamaju, Kota Depok, Jawa Barat (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/wsj)

Kendati demikian, Rachmat mengingatkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi tidak boleh mengabaikan aspek pemerataan ekonomi. Menurutnya, dalam mengejar pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan upaya memperluas pemerataan dan menurunkan kesenjangan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi tinggi tetap harus dilakukan juga memenuhi pemerataan ekonomi yang semakin luas dan turunnya kesenjangan ekonomi,”

katanya.

Adapun pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Angka itu naik dari target tahun ini yang sebesar 5,4 persen.

Baca juga:
2.610 Titik Panas Kepung Kalbar, BNPB Waspadai Ancaman Karhutla hingga… Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla)…
Prabowo Dengar Keluhan Korban Gempa NTT Ditagih Utang, Responsnya Bikin… Presiden Prabowo Subianto menerima berbagai keluhan saat memimpin rapat koordinasi penanganan gempa…
Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur, Sebut Hoaks Jelang Muktamar NU Kementerian Agama (Kemenag) membantah kabar yang menyebut Menteri Agama Nasaruddin Umar telah…
  • 2.610 Titik Panas Kepung Kalbar, BNPB Waspadai Ancaman Karhutla hingga Awal September
  • Prabowo Dengar Keluhan Korban Gempa NTT Ditagih Utang, Responsnya Bikin Kaget
  • Kemenag Bantah Nasaruddin Umar Mundur, Sebut Hoaks Jelang Muktamar NU
Tag:bappenasBerita Pentingkrisis 1998Negara MajuNegara Pendapatan MenengahRachmat PambudyRAPBN 2027
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro serta berbagai kebijakan ekonomi yang memengaruhi dunia usaha dan perekonomian Indonesia.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Tiga Bocah Bobol Toko di Padang, Ngaku Belajar dari Roblox hingga Aksinya Viral di Medsos
By Ani Ratnasari
Tiga bocah yang diduga melakukan aksi pembobolan sejumlah toko di Plaza Andalas, Padang, Sumatra Barat.
1
Budi Arie ‘Senggol’ Percepatan Pemilu, PKS: Sebaiknya Jokowi Jelaskan agar Tak Jadi Bola Liar
By Hardani Triyoga
Kepala Kantor Staf Presiden PKS, Pipin Sopian.
2
Di Depan Warga Pati, Dasco Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Gagal Disahkan di 2026
By Rika Pangesti
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjawab pertanyaan wartawan usai rapat pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nym)
3
Kemenkeu Luruskan Omongan Purbaya Soal Rp7 T ke BPS, Ternyata Bukan Cuma DTSEN
By Anisa Aulia
Petugas sensus mendata meteran listrik rumah warga saat melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 di Kelurahan Maliaro, Ternate, Maluku Utara. (Sumber: Antara Foto/Andri Saputra/hma)
4
Warga Pati Ketuk Pintu DPR soal RUU Perampasan Aset, Tenggat 15 Desember
By Rika Pangesti
Massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menyantap hidangan di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
5

BERITA LAINNYA

Gambar ilustrasi geothermal energi
Ekonomi Bisnis

Gunung Ungaran Bakal Dibor hingga 2.200 Meter, PLN Kejar Potensi Panas Bumi 55 MW untuk Listrik Jawa-Bali

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) mengungkapkan, Gunung Ungaran di wilayah Kabupaten…

Ani RatnasariAmin-Suciady-Owrite
By
Ani Ratnasari
Amin Suciady
1 jam lalu
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS. (Sumber: Antara Foto/Indrianto Eko Suwarso/kye)
Ekonomi Bisnis

Rupiah Ditutup Lemes ke Rp17.744 per Dolar AS, Tapi IHSG Menguat 1,81 Persen

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak berlawanan arah…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
3 jam lalu
Logo Goto. (Sumber: goto)
Ekonomi Bisnis

Morgan Stanley Borong Saham GOTO Rp87,3 Miliar, Segini Total Kepemilikannya Saat Ini

Morgan Stanley & Co. International Plc kembali menambah kepemilikan sahamnya di PT…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
3 jam lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Pusat DJP (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Pemerintah Janji Benahi DTSEN Agar Bansos Tak Salah Sasaran Tahun Depan, Ini Caranya

Pemerintah menyatakan akan terus memperbaiki Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN),…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
5 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up