Harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa, seiring kembali pecahnya pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah. Kondisi itu memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan dari kawasan penghasil minyak mentah utama dunia.
Dilansir dari Economic Times pada Selasa, 1 September 2026, harga minyak mentah Brent naik 70 sen atau 0,75 persen menjadi US$91,20 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 93 sen atau 1 persen menjadi US$87 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah sesi perdagangan yang kuat pada Senin, ketika harga minyak mentah Brent ditutup naik 2,7 persen, sementara WTI berakhir naik 3 persen dan sempat mencapai level tertinggi sejak 21 Agustus.
Trump Ancam Iran


Presiden AS Donald Trump pada Senin mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran setelah kedua negara saling melancarkan serangan secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan pada Minggu. Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya mulai bergeser menjadi pertikaian ekonomi.
Ketegangan baru ini kembali menyoroti kemungkinan Iran melakukan pembalasan. Sehingga, kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi kerusakan pada infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menimbulkan ketidakpastian baru terkait pelayaran melalui Selat Hormuz.
Adapun upaya mediasi yang dilakukan oleh sejumlah negara, termasuk Qatar dan Oman untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali sejauh ini belum menunjukkan kemajuan berarti.
Jalur pelayaran tersebut, yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang dimulai pada akhir Februari, ditutup oleh Iran setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari.
Risiko terhadap pelayaran dan pasokan minyak semakin ditekankan pada Selasa, ketika badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengatakan sebuah kapal tanker melaporkan telah terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari Selat Hormuz. Menurut laporan Reuters, tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan.
Waktu Perang Jadi Kunci


Lamanya gangguan ini akan menjadi faktor kunci bagi pasar minyak mentah. JPMorgan memperkirakan setiap tambahan satu bulan gangguan dapat mendorong harga Brent naik sekitar US$7 hingga US$8 per barel. Jika gangguan berlangsung selama tiga bulan, bank itu memperkirakan rata-rata harga Brent bulanan dapat mencapai sekitar US$114 per barel.
Goldman Sachs juga telah memperingatkan bahwa harga minyak Brent dapat naik hingga US$120 per barel jika gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz terus berlanjut. Namun, skenario dasarnya mengasumsikan bahwa ketegangan di Timur Tengah pada akhirnya akan mereda.
Bank tersebut memperkirakan harga minyak Brent akan berada di rata-rata US$80 per barel pada kuartal IV dan US$75 per barel tahun depan, sambil mengingatkan bahwa risiko masih cenderung ke arah kenaikan jika gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.























