Bank Indonesia (BI) buka suara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Sejumlah faktor menjadi biang kerok pelemahan rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea mengungkapkan pelemahan rupiah berasal dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal.
Pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal. Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11 persen tertinggi sejak 2007,”
kata Erwin dalam keterangan resmi Kamis, 24 September 2026.
Selain itu, tekanan rupiah juga berasal dari ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia, sehingga harga minyak Brent kembali di atas US$100 per barel.







