Baru-baru ini viral di media sosial seekor tikus nampak muncul di rantang Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 8 Semarang.
Video tersebut dibagikan oleh akun Instagram @dinaskegelapan_kotasemarang.
Dalam video tersebut menunjukkan sejumlah siswi nampak heboh setelah mendapati ada tikus berlarian di dalam kelas yang keluar dari boks rantang MBG.
Dalam video itu tentu menjadi sorotan, khususnya mengenai kehigienisan makanan setelah tercemar oleh tikus yang ditemukan di rantang MBG.
Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan, Dicky Budiman menanggapi atas kejadian tersebut, dimana dampak ketika mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi tikus dapat menyebabkan infeksi bakteri leptospirosis.
Ia menjelaskan, tikus merupakan pembawa berbagai patogen. Kontaminasi makanannya dapat terjadi melalui urin tikus, feses, air liur,atau kontak permukaan tubuh yang disebut dengan food contamination.
Ini bisa menyebabkan gagal ginjal, bahkan kematian. Kemudian salmonellosis yang berisiko pada anak. Kemudian hantavirus, yang bisa menyebabkan sindrom pada penyakit paru berat, yang yang juga fatalitasnya atau kematiannya bisa tinggi,”
ujar Dicky Budiman kepada owrite.
Lebih lanjut Dicky mengatakan, selain bakteri ada juga kontaminasi parasit dalam bentuk cacing, seperti hemenolepis, yang oleh feses atau kotoran tikus.
Risiko lainnya adalah toksikologis, kontaminasi mikroba ini dapat menghasilkan enterotoksin yang berbahaya meskipun makanan sudah dipanaskan.
Ia juga menegaskan, konsumsi makanan yang terkontaminasi tikus risikonya tinggi apalagi kalau di daerah tersebut sanitasinya buruk.
Dan inilah yang dapat menyebabkan kejadian luar biasa. Kalau tikus itu meskipun tidak buang kotoran, itu harus disadari bahwa ini tetap berbahaya. Karena tikus itu membawa patogen penyebab mikroba, penyebab penyakit itu pada bulunya, pada kakinya,“
jelasnya.
Dalam perspektif epidemiologi, lanjut Dicky, kehadiran tikus di area makanan itu menandakan kondisi tidak layak konsumsi atau unfit for consumption tanpa perlu bukti kontaminasi visual.

