Kalau mendengar kata gothic, apa yang langsung terlintas di kepalamu? Baju serba hitam, eyeliner tebal, sepatu boots, atau mungkin karakter Wednesday Addams yang dingin dan misterius?
Nggak salah sih. Tapi sebenarnya, istilah gothic jauh lebih besar daripada sekadar gaya berpakaian. Gothic memang identik dengan warna hitam, budaya ini punya sejarah panjang, filosofi, hingga cara pandang tersendiri yang membuat gothic tetap relevan dari generasi ke generasi.
Menariknya, setelah sempat dianggap sebagai subkultur pinggiran, gothic kini kembali menjadi salah satu tren fashion terbesar di dunia. Korset, renda hitam, mantel panjang, hingga makeup bernuansa gelap mulai ramai muncul di media sosial, panggung mode, sampai outfit harian Gen Z.
Jadi, sebenarnya apa sih arti gothic? Dan kenapa tren ini kembali booming?
Apa Itu Gothic?
Secara sederhana, gothic adalah sebuah subkultur yang lahir dari dunia musik pada akhir 1970-an dan awal 1980-an.
Budaya ini berkembang dari genre musik post-punk dan darkwave yang saat itu menawarkan sesuatu yang berbeda dari musik populer. Liriknya lebih melankolis, lebih reflektif, dan banyak membahas tema kehidupan yang sering dianggap “gelap”, seperti kehilangan, kesepian, cinta yang tragis, hingga pencarian jati diri.
Namun seiring waktu, gothic berkembang menjadi lebih dari sekadar musik. Ia berubah menjadi identitas budaya yang mencakup fashion, seni, sastra, hingga cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Karena itu, jangan heran kalau dua orang yang sama-sama menyukai gothic bisa memiliki gaya yang sangat berbeda. Ada yang tampil seperti bangsawan era Victoria, ada yang lebih modern, bahkan ada yang memadukannya dengan gaya bohemian atau streetwear.
Identitas Gothic
Jauh sebelum menjadi tren fashion, gothic sebenarnya berasal dari dunia sastra.
Pada abad ke-18 dan ke-19, banyak penulis yang menciptakan cerita bertema kastil tua, hantu, misteri, tragedi, dan sisi gelap manusia. Nama-nama seperti Edgar Allan Poe dan Mary Shelley merupakan ikon dari genre yang dikenal sebagai Gothic Literature.
Dari sanalah lahir konsep romantisme gelap atau dark romanticism yang kemudian menjadi fondasi budaya gothic saat ini.
Ketika musik post-punk muncul pada akhir 1970-an, nuansa gelap dan melankolis dari sastra gothic kembali hidup dalam bentuk yang lebih modern. Band seperti Bauhaus, The Cure, dan Siouxsie and the Banshees menjadi pelopor yang membentuk identitas gothic seperti yang dikenal hingga sekarang.
Kenapa Gothic Selalu Identik dengan Warna Hitam?
Ini mungkin pertanyaan yang paling sering muncul. Namun, jawabannya adalah bukan karena para goth suka terlihat menyeramkan.
Bagi komunitas gothic, warna hitam punya banyak makna. Hitam dianggap sebagai simbol refleksi diri, ketenangan, misteri, dan penerimaan terhadap kenyataan bahwa hidup nggak selalu berjalan sempurna.
Di saat banyak orang berlomba-lomba menampilkan versi terbaik dan paling bahagia dari dirinya, gothic justru mengakui bahwa rasa sedih, kehilangan, kecewa, atau bingung adalah bagian normal dari kehidupan.
Makanya, warna hitam dalam budaya gothic bukan simbol keputusasaan, melainkan simbol kejujuran terhadap emosi manusia.
Selain itu, warna hitam juga memberikan ruang bagi seseorang untuk tampil berbeda tanpa harus mengikuti standar yang sedang populer.
Jadi Goth Bukan Berarti Depresi
Salah satu stereotip terbesar tentang gothic adalah anggapan bahwa semua orang yang menyukai budaya ini pasti murung atau depresi.
Padahal kenyataannya jauh bukan seperti itu, banyak orang tertarik dengan gothic karena menyukai seni, musik, sastra, fashion, atau sekadar merasa nyaman dengan estetika yang berbeda dari arus utama.
Bagi sebagian orang, gothic justru menjadi ruang untuk menemukan komunitas yang lebih menerima keberagaman identitas dan ekspresi diri.
Jadi, memakai pakaian hitam bukan berarti seseorang sedang sedih. Sama seperti memakai pakaian warna-warni juga tidak otomatis membuat seseorang bahagia.
Kenapa Gothic Kembali Tren di Kalangan Gen Z?
Kalau kamu sering scrolling TikTok atau Instagram, mungkin sadar kalau estetika gothic mulai muncul lagi di mana-mana.
Fenomena ini sebenarnya sudah terlihat sejak serial Wednesday dirilis pada 2022. Karakter Wednesday Addams yang diperankan Jenna Ortega membuat banyak anak muda tertarik pada fashion bernuansa gothic modern.
Setelah itu, tren semakin besar berkat film Nosferatu, Beetlejuice Beetlejuice, hingga berbagai kampanye fashion dari brand mewah dunia.
Tapi ini bukan cuma karena pengaruh film. Banyak pengamat budaya melihat kebangkitan gothic sebagai respons terhadap kondisi dunia saat ini. Ketika banyak orang merasa lelah dengan tuntutan untuk selalu terlihat sempurna, estetika gothic menawarkan sesuatu yang lebih autentik.
Alih-alih berpura-pura semuanya baik-baik saja, gothic mengajak orang menerima bahwa hidup punya sisi terang dan gelap sekaligus.
Dan bagi Gen Z yang dikenal lebih terbuka dalam membahas kesehatan mental, identitas, serta ekspresi diri, pesan ini terasa semakin relevan.
Dark Romance, Wajah Baru Gothic Modern
Kalau gothic era 2000-an identik dengan eyeliner tebal dan outfit serba hitam, versi 2025-2026 hadir dengan pendekatan yang lebih romantis.
Tren ini dikenal sebagai dark romance. Ciri khasnya adalah perpaduan antara elemen klasik dan modern seperti:
- Korset
- Renda transparan
- Rok berlapis tulle
- Mantel panjang dramatis
- Perhiasan vintage
- Warna hitam, merah marun, dan ungu gelap
Estetika ini menghadirkan kesan misterius, elegan, sekaligus berani. Nggak heran kalau banyak brand fashion mulai mengadaptasinya ke koleksi mereka.
Saat ini, gothic bisa dibilang jadi pengingat bahwa tidak semua hal harus terlihat sempurna.
Budaya ini mengajarkan bahwa keindahan bisa ditemukan dalam hal-hal yang tidak biasa. Bahwa menjadi berbeda bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Dan bahwa setiap orang berhak mengekspresikan dirinya tanpa harus mengikuti standar yang ditentukan orang lain.
Mungkin itu alasan kenapa gothic tidak pernah benar-benar hilang. Ia terus berevolusi mengikuti zaman, tetapi tetap membawa pesan yang sama yaitu menjadi diri sendiri, bahkan ketika dunia mengharapkan kamu menjadi orang lain.

