Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi-lagi jadi bahan gibahan netizen. Kali ini, netizen ramai-ramai soroti data terbaru stunting yang terjadi di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Walaupun program MBG ini sudah berjalan sejak Februari 2025. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau, prevalensi stunting pada 2024 tercatat sebesar 21,48 persen.
Angka tersebut memang sempat turun menjadi 20,50 persen pada 2025. Namun, pada triwulan I 2026, prevalensi stunting kembali meningkat menjadi 21,82 persen atau naik 1,32 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan ini tentunya memicu berbagai komentar dari netizen di media sosial. Banyak warganet yang mempertanyakan efektivitas program MBG dalam menekan angka stunting, mengingat program tersebut sejak awal diklaim sebagai salah satu solusi untuk memperbaiki gizi anak.
Ini bukti bahwa tujuan MBG menurunkan angka stunting ga tercapai. Pas debat mereka gembar-gembor MBG buat cegah stunting pada anak, tapi angka ini bukti bahwa programnya ga efektif buat nurunin angka stunting.”
tulis @dinastechirese.
Tdk usah Sanggau, di desa-desa di Jawa saja MBG belum merata dan angka stunting msh tinggi pdhl Mei 2026 sudah habis 90 trilyun MBG nasional. Lalu MBG itu buat siapa? 90 T itu dapat apa?”
ujar @caviofficial.id.
Ya gimana, kalau bener mau ngatasin stunting kan harusnya fokusnya di calon ibu yang mempersiapkan kehamilan dan si anak sampai 1000 hari pertama kehidupannya. Alias ga cukup dikasih makan doang,”
tulis akun Threads @leonarhong.
Angka stunting tinggi itu justru ada di daerah 3T. Tapi dapur malah menjamur di daerah yang angka stuntingnya rendah,”
komentar @nihao.kiki
Padahal dulu sudah bagus, pencegahan stunting lewat program kader posyandu di bawah Kemenkes. Program makanan bergizi untuk ibu hamil dan balita, alokasi dana juga gak besar,”
tulis @scuilick.
Nanti ada klarifikasi ‘Oh itu salah data’,”
sindir @adesbinsiam.
Menanggapi kenaikan angka stunting tersebut, Susana Herpena mengatakan pihaknya akan memanggil organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk melakukan pembahasan dan evaluasi.
Ia juga menilai daerah dengan prevalensi stunting tinggi seharusnya menjadi prioritas dalam pelaksanaan program MBG.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Sanggau berencana mengkaji lebih lanjut faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan prevalensi stunting tersebut, termasuk efektivitas pelaksanaan program MBG di lapangan.


