Seruan boikot terhadap layanan percetakan Pandawa 24 Jam ramai bermunculan di media sosial setelah beredar dugaan bahwa perusahaan tersebut menolak mencetak banner yang akan digunakan untuk aksi demonstrasi.
Di tengah derasnya kritik, Pandawa 24 Jam akhirnya mengunggah pernyataan klarifikasi resmi melalui akun media sosial mereka. Dalam pernyataan tersebut, perusahaan menyampaikan permintaan maaf kepada pihak yang merasa kecewa sekaligus menegaskan bahwa mereka tidak bermaksud menyakiti atau menyudutkan pihak mana pun melalui keputusan yang diambil.
Curhat Penolakan Cetak Banner Aksi

Seruan boikot terhadap percetakan Pandawa 24 Jam ramai bermunculan di media sosial setelah akun X @olie9arki membagikan tangkapan layar percakapan dengan admin percetakan tersebut pada Kamis, 12 Juni 2026.
Pemilik akun yang diketahui bernama Kani, mahasiswi Fakultas Ilmu Administrasi UI angkatan 2024, mengaku pesanannya untuk mencetak banner aksi demonstrasi ditolak.
Dalam unggahan yang telah ditonton lebih dari satu juta kali itu, Kani memperlihatkan percakapan dengan pihak percetakan. Awalnya, admin Pandawa 24 Jam memberikan saran terkait format file yang akan dicetak. Namun, beberapa menit kemudian, pihak percetakan menyampaikan bahwa mereka tidak dapat menerima pesanan tersebut..
Komentar Warganet VS Klarifikasi Panwada 24 Jam
Pada 13 Juni 2026, Pandawa Depok 24 Jam mengeluarkan klarifikasi resmi terkait beredarnya terkait polemik penolakan pencetakan banner aksi yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Dalam klarifikasinya yang diungah di Intagram Pandawa 24 Jam, mereka menegaskan bahwa mereka tidak bermaksud menyakiti atau menyudutkan pihak mana pun. Mereka juga membantah tudingan bahwa keputusan yang diambil didasari kebencian terhadap kelompok tertentu.
Sementara itu, hingga kini unggahan klarifikasi Pandawa 24 Jam masih dibanjiri komentar dari pengguna media sosial yang menyampaikan beragam tanggapan, mulai dari dukungan hingga kritik terhadap keputusan percetakan tersebut.
Thank you ya daw atas bantuannya selama ini, aku akan cari vendor lain,”
tulis akun Instagram @mohrezafernanda.
Gue boikot jasa Pandawa mulai hari ini,”
ulis akun Threads @rurs.thelapislazuli.
SKIP SKIP NGGAK USAH PRINT DISINI, tempat print an udah kayak antek,”
tulis akun @sheismadbutseokjin.
Banner Akhirnya Dicetak di Percetakan Lain
Meski mendapat penolakan dari Pandawa 24 Jam, sambal memamerkan hasil cetakannya, Kani mengatakan banner yang dibutuhkan untuk aksi tersebut akhirnya berhasil dicetak di percetakan lain di kawasan Rawamangun.
Melalui unggahan lanjutan, ia menyampaikan apresiasi kepada percetakan yang bersedia menerima pesanannya. Kani juga menyertakan tagar #RawamangunMelawan dan #RawamangunRevolusioner dalam unggahannya.
Bantah Tuduhan Menggiring Opini Publik
Setelah unggahannya viral, Kani mendapat sejumlah komentar yang menuding dirinya sengaja menggiring opini publik terhadap Pandawa 24 Jam. Menanggapi hal itu, ia memberikan klarifikasi melalui unggahan lain di akun media sosialnya.
Menurut Kani, unggahan tersebut bukan bertujuan untuk mengarahkan opini publik ke pihak tertentu. Ia menilai masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan mengekspresikan pandangannya.
Gak ada yg menggiring kemana-mana,”
tulisnya.
Soroti Hak Kebebasan Berekspresi
Dalam klarifikasinya, Kani juga menyoroti pentingnya kebebasan berekspresi dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk menolak pelanggan.
Ia juga mempertanyakan alasan penolakan tersebut karena, menurutnya, sejumlah percetakan lain di sekitar lokasi masih bersedia menerima pesanan serupa.
Seiring viralnya unggahan tersebut, muncul berbagai respons dari warganet. Sebagian menyuarakan dukungan terhadap kebebasan berekspresi
Miris banget gila, jasa printing aja takut nerima desain yang nyangkut pemerintah. Padahal kebebasan berpendapat dijamin, tapi di lapangan orang-orang pada ketakutan dan malah pilih main aman,”
tulis akun @pecintareybahan.
Apakah kalau demo, demonstrannya ditanyain nota percetakan?”
ungkap @moonsnim.
