Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 18 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Hype / Apa Itu Slow Living? Tren Tinggal di Desa dengan Gaji Dolar dari Kerja Remote
Hype

Apa Itu Slow Living? Tren Tinggal di Desa dengan Gaji Dolar dari Kerja Remote

Ossid Duha Jussas SalmaSyifa Fauziah
Last updated: Juni 19, 2026 2:49 pm
By
Ossid Duha Jussas Salma
ByOssid Duha Jussas Salma
Follow:
Syifa Fauziah
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Follow:
2 bulan lalu
Share
Slow living
Slow living (Foto: Unspalsh)
SHARE

Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan yang serba cepat, semakin banyak orang mulai melirik gaya hidup yang lebih tenang dan seimbang. Fenomena ini dikenal sebagai slow living, yaitu cara hidup yang tanpa terburu-buru.

Daftar isi Konten
  • Mengenal Istilah Slow Living
  • Dampak Budaya Serba Cepat
  • Gejala Tubuh yang Butuh Istirahat
  • Pekerjaan di Era Slow Living

Banyak pekerja digital yang memilih menetap di desa atau daerah dengan biaya hidup lebih rendah, sambil bekerja untuk perusahaan atau klien luar negeri yang membayar dalam mata uang dolar.

Dengan pemandangan alam yang lebih asri, banyak orang tetap bisa menikmati kualitas hidup yang lebih baik tanpa harus mengorbankan karier dan pendapatan mereka.

Baca juga:
Tren Self-care Bergeser Jadi Kebutuhan, Bukan Lagi Gaya Hidup  Rutinitas merawat diri atau self-care kini tak lagi dipandang sebagai aktivitas untuk…
Banyak Anak Muda Tinggalkan Prioritas Pacaran dan Memilih Solomaxxing, Ternyata… Belakangan ini, istilah solomaxxing mulai ramai diperbincangkan di media sosial, terutama oleh kalangan gen…
Tren Sepatu ‘Gemas’ Kelir Pink Jajah Piala Dunia 2026: Bikin… Piala Dunia 2026 tidak hanya menyuguhkan persaingan sengit antarnegara, tetapi juga menghadirkan…
  • Tren Self-care Bergeser Jadi Kebutuhan, Bukan Lagi Gaya Hidup 
  • Banyak Anak Muda Tinggalkan Prioritas Pacaran dan Memilih Solomaxxing, Ternyata Ini Penyebabnya
  • Tren Sepatu ‘Gemas’ Kelir Pink Jajah Piala Dunia 2026: Bikin Pemain Pede,…

Mengenal Istilah Slow Living

Melansir dari laman Halodoc , slow living merujuk pada filosofi hidup yang menekankan kualitas dibanding kuantitas dengan kecepatan yang tepat atau atau tempo giusto. Konsep ini bukan hidup bermalas-masalan.

Lebih jauh, slow living juga dapat dikaitkan dengan prinsip SLOW, yaitu Sustainable (berkelanjutan), Local (lokal), Organic (organik), dan Whole (utuh). Di mana prinsip ini berarti individu mampu mengurangi beban mental sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Penerapan slow living melibatkan kesadaran penuh (mindfulness) dalam berbagai aspek. Dengan kesadaran ini, seseorang dapat hadir lebih banyak dalam momen dan tidak terjebak dalam ritme hidup yang serba terburu-buru. Maka itu biasanya identik dengan tinggal di pedesaan.

Dampak Budaya Serba Cepat

Budaya kecepatan (fast-paced culture) yang berkembang seiring kemajuan teknologi dan tuntutan ekonomi modern menjadi sebab gaya hidup dengan ritme lebih tenang semakin pudar. Kondisi ini menciptakan ekspektasi orang harus selalu terhubung dan responsif secara instan.

Selain faktor tersebut, lingkungan kerja dan kondisi psikososial juga turut berperan. Ketergantungan yang tinggi terhadap perangkat digital membuat individu terus terpapar stimulus, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan otak.

Dari sisi biologis, tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat memicu peningkatan hormon kortisol atau hormon stres. Serta bisa berpengaruh gangguan pada area otak yang berperan dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan.

Baca juga:
Apa Itu Style Gothic? Ternyata Ini Filosofi dan Alasan Tren… Kalau mendengar kata gothic, apa yang langsung terlintas di kepalamu? Baju serba…
Mengenal Yapping, Gaya Komunikasi Gen Z yang Lagi Tren di… Di era media sosial sekarang, yapping jadi salah satu gaya komunikasi khas…
  • Apa Itu Style Gothic? Ternyata Ini Filosofi dan Alasan Tren Gothic Kembali…
  • Mengenal Yapping, Gaya Komunikasi Gen Z yang Lagi Tren di Media Sosial

Gejala Tubuh yang Butuh Istirahat

Kebutuhan ini biasanya muncul melalui tanda stres kronis atau kelelahan mental (burnout). Maka itu penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih serius di kemudian hari. Beberapa tanda yang umum muncul antara lain:

  1. Gangguan tidur atau insomnia yang dipicu oleh pikiran yang terus aktif (racing thoughts).
  2. Menurunnya fokus serta daya ingat akibat paparan informasi yang berlebihan (information overload).
  3. Rasa lelah fisik yang terus berlanjut meskipun sudah cukup beristirahat (chronic fatigue).
  4. Kecemasan yang menetap dan kesulitan untuk merasa tenang ketika tidak sedang bekerja.
  5. Keluhan fisik seperti sakit kepala tegang, gangguan pencernaan, hingga ketegangan pada otot leher dan bahu.

Pekerjaan di Era Slow Living

Dalam konsep slow living, jenis pekerjaan umumnya dipilih bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga fleksibilitas. Banyak orang memilih pekerjaan yang bisa dilakukan dari mana saja, terutama pekerjaan berbasis digital.

Penulis lepas, copywriter, virtual assistant, hingga social media manager. Selain itu, bidang kreatif juga sering menjadi pilihan, seperti desainer grafis, ilustrator, fotografer, videografer, hingga content creator. Profesi-profesi ini memberi ruang untuk berekspresi dengan tempo yang lebih santai.

Selain itu slow living bisa diwujudkan melalui usaha mandiri seperti berjualan online, affiliate marketing, atau menjual produk digital. Bahkan beberapa orang memilih kembali ke aktivitas alam.

Slow living bukan tentang memperlambat hidup sepenuhnya, melainkan tentang menemukan kecepatan yang paling tepat untuk diri sendiri agar tetap sehat, produktif, dan merasa utuh sebagai manusia.

Tag:biaya hidup rendahslow livingTren
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Trending di OWRITE
Dewata Challenge Series: Persib Tak Sekadar Buru Trofi, Bali United Jadi Panggung Pemain Baru
By Hadi Febriansyah
Pemain Persib Bandung dalam pertandingan melawan Sabah FC, 15 Agustus 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali.
1
Dikejar Waktu Lawan Manila Digger: Persib Punya 15 Hari Menuju AFC Champions League Two
By Hadi Febriansyah
Pelatih Persib Bandung Ivan Tolic (baju hijau).
2
HUT RI ke-81: Gaya Nyentrik Gibran Berbalut Adat NTT, Kumpul Keluarga Besar di Istana
By Hadi Febriansyah
Eks Presiden RI Joko Widodo (kiri), Presiden RI Prabowo Subianto tengah), dan Wakil Presiden Gibran (kanan) dalam peringatan HUT KE-81 RI di Istana Negara, Jakarta, 17 Agustus 2026.
3
Cegah Rasuah: KPK “Pasang Mata” Penyaluran Bantuan Gempa NTT
By Rahmat Baihaqi
Petugas medis memindahkan pasien ke dalam tenda darurat di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, Minggu (16/8/2026).
4
Tampil Anggun Berkebaya Putih, Dewi Soekarno Hadiri Upacara HUT RI di Istana Merdeka
By Rahmat Baihaqi
Istri mendiang Presiden pertama Soekarno, Ratna Dewi Soekarno atau Dewi Soekarno memakai kebaya putih menghadiri upacara HUT ke-81 RI di Istana Negara.
5

BERITA LAINNYA

Panjat Pinang di Monas
Hype

Serunya Panjat Pinang di Monas, Peserta Jatuh Bangun Berebut Hadiah

Suasana Monumen Nasional (Monas) pada perayaan 17 Agustus kali ini makin ramai.…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
16 jam lalu
Lomba memakai baju daster
Hype

Seru-seruan 17 Agustusan di Monas, Ada Balap Karung hingga Panjat Pinang Berhadiah

Perayaan HUT ke-81 RI di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Senin, 17…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
19 jam lalu
Permainan Anak di Monas Saat 17 Agustusan
Hype

Lima Permainan Anak di Monas Saat 17 Agustusan, Gratis dan Buka Sampai Malam

Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, tak…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
20 jam lalu
Mensesneg Prasetyo Hadi di komplek parlemen, Senayan, Jakarta.
Hype

Prabowo Bongkar Masalah Dokter Gigi di RI, 6.000 Puskesmas Bakal Jadi Sasaran Mobile Dentist

Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung soal kekurangan dokter gigi di Indonesia dalam…

Ani RatnasariHardani Triyoga
By
Ani Ratnasari
Hardani Triyoga
2 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up