Enam bulan setelah peletakan batu pertama dilakukan, pembangunan ribuan hunian tetap (huntap) bagi korban banjir dan longsor di Pulau Sumatera mulai menunjukkan hasil nyata. Banyak rumah telah berdiri bahkan mulai ditempati warga yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Perkembangan tersebut disampaikan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui unggahan video di akun Instagram resminya. Dari rekaman video udara yang ditampilkan memperlihatkan deretan rumah yang telah selesai dibangun di sejumlah wilayah terdampak terutama Aceh dan Sumatera Utara.
Dalam unggahannya, Tzu Chi menggambarkan perkembangan proyek yang kini mulai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.
Enam bulan kemudian, inilah pantauan terkini dari udara. Di beberapa titik di Aceh dan Sumatera Utara, deretan rumah telah berdiri, sebagian telah dihuni, sebagian lainnya masih dalam proses penyelesaian,”
tulis Tzu Chi dalam keterangan unggahannya dikutip pada Minggu, 21 Juni 2026.
Jadi Pembangunan Nyata
Program pembangunan hunian tetap ini merupakan tindak lanjut dari komitmen kemanusiaan yang disampaikan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia pada 19 Desember 2025. Saat itu, organisasi sosial tersebut menyatakan kesiapannya membantu para korban banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Tak lama setelah komitmen tersebut diumumkan, pembangunan langsung dimulai melalui peletakan batu pertama pada 21 Desember 2025.
Tahap awal proyek difokuskan di Sumatera Utara sebagai salah satu daerah yang terdampak cukup parah akibat bencana.
Pada fase pertama, sebanyak 403 unit rumah dibangun di tiga wilayah berbeda. Rinciannya meliputi 100 unit di Kabupaten Tapanuli Selatan, 200 unit di Kota Sibolga, dan 103 unit di Kabupaten Tapanuli Utara.
Pembangunan itu jadi fondasi awal menuju target yang jauh lebih besar, yakni membangun ribuan rumah permanen bagi masyarakat terdampak di tiga provinsi.
Target 2.500 Rumah
Berdasarkan informasi dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, program ini menargetkan pembangunan sebanyak 2.500 unit Rumah Cinta Kasih tipe 36 yang dilengkapi berbagai fasilitas umum pendukung.
Dari jumlah itu, sebanyak 1.000 unit dialokasikan untuk Aceh. Lalu, 1.000 unit untuk Sumatera Utara, dan 500 unit untuk Sumatera Barat.
Setiap unit rumah dibangun dengan luas bangunan 36 meter persegi di atas lahan seluas 80 meter persegi. Selain menyediakan tempat tinggal yang layak, program ini juga dirancang untuk mendukung pemulihan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Proyek tersebut mendapat dukungan dari Pengusaha Peduli NKRI bersama para donatur yang berpartisipasi dalam upaya rehabilitasi pascabencana.
Adapun Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei menyampaikan pembangunan Rumah Cinta Kasih bukan sekadar membangun fisik rumah. Namun, juga mengembalikan harapan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Dia berharap bisa membangun Rumah Cinta Kasih di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatera Utara.
Ini merupakan tekad bersama kami agar para warga dapat segera kembali memiliki tempat tinggal dan menata kehidupan mereka,”
ujar Liu Su Mei saat peletakan batu pertama pada 21 Desember 2025.
Meski hingga kini belum diumumkan secara rinci jumlah rumah yang telah rampung sepenuhnya. Perkembangan terbaru yang ditampilkan melalui pantauan udara menunjukkan proyek tersebut telah memasuki fase penting yang manfaatnya dirasakan rakyat.

























