Pakaian murah dengan model yang selalu mengikuti tren membuat produk fast fashion semakin diminati. Koleksi yang terus berganti serta harga yang terjangkau mendorong banyak orang membeli pakaian baru lebih sering.
Namun, di balik kemudahan tersebut, industri fast fashion menyimpan dampak lingkungan yang tidak kecil. Mulai dari meningkatnya limbah tekstil, tingginya emisi karbon, hingga pencemaran mikroplastik menjadi persoalan yang kini mendapat perhatian di berbagai negara.
Salah satu tantangan terbesar dari industri fast fashion adalah meningkatnya jumlah limbah tekstil. Banyak pakaian diproduksi untuk mengikuti tren sesaat sehingga umur pemakaiannya relatif singkat sebelum akhirnya dibuang.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan, limbah tekstil di Indonesia diproyeksikan mencapai 3,5 juta ton pada 2030 apabila tidak diimbangi pengelolaan yang lebih baik.
Masalah serupa juga terjadi secara global. Ellen MacArthur Foundation (2017) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar limbah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar.
Selain volume limbah yang besar, banyak produk fast fashion menggunakan serat sintetis seperti polyester yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami.
Dampak Fast Fashion terhadap Lingkungan
Berikut sejumlah dampak lingkungan yang ditimbulkan industri fast fashion, sebagaimana dirangkum dari Earth Island Journal, Rabu, 22 Juli 2026.
- Meningkatkan Timbunan Limbah Tekstil
Produksi pakaian dalam jumlah besar dengan harga murah membuat masyarakat cenderung lebih cepat mengganti pakaian. Akibatnya, limbah tekstil terus bertambah setiap tahun.
- Produk Baru yang Tak Terjual Berpotensi Menjadi Limbah
Dalam beberapa kasus, produk yang tidak terjual dilaporkan dimusnahkan atau dibuang untuk mengurangi biaya penyimpanan maupun menjaga eksklusivitas merek. Praktik ini turut menambah jumlah limbah tekstil.
- Menyumbang Emisi Gas Rumah Kaca
Mulai dari proses produksi bahan baku, manufaktur, hingga distribusi membutuhkan energi dalam jumlah besar. Industri fesyen diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca global, sehingga menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
- Menguras Air dan Berpotensi Mencemari Perairan
Produksi tekstil membutuhkan air dalam jumlah besar, termasuk pada proses pencelupan dan pewarnaan kain. Jika limbah produksi tidak diolah dengan baik, pencemaran sungai dan sumber air dapat terjadi.
- Menambah Mikroplastik di Laut
Serat sintetis seperti polyester dan akrilik dapat melepaskan partikel mikroplastik saat dicuci. Partikel tersebut kemudian mengalir ke sungai hingga laut dan berpotensi mengganggu ekosistem perairan.
- Mendorong Konsumsi Berlebihan
Perubahan tren yang sangat cepat membuat masyarakat terdorong membeli pakaian baru meski pakaian lama masih layak digunakan. Pola konsumsi ini mempercepat peningkatan limbah tekstil.























