Viral potongan video yang memperlihatkan perdebatan antara pengusaha sound horeg dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur soal fatwa haram MUI mengenai sound horeg dalam program Catatan Demokrasi tvOne.
Hingga 10 September 2026, video yang diunggah akun Instagram @sumbarterkini_id telah mengumpulkan 17,9 ribu likes, 3 ribu komentar, dan lebih dari 1,6 ribu kali dibagikan.
Di kolom komentar banyak publik menilai fatwa MUI ini sudah tepat, karena banyak pihak yang menilai sound horeg sendiri bukan sekadar soal suara musik dengan volume tinggi yang tidak hanya merugikan kesehatan dan lingkungan, tapi juga mengkritisi bentuk hiburan yang ditampilkan dalam parade sound system tersebut.
Sebelumnya, pada 15 Juli 2026 MUI Jawa Timur sebelumnya telah menetapkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2025 tentang Penggunaan Sound Horeg.
Dilansir dari laman MUI digital, MUI Jawa Timur menyatakan penggunaan sound horeg dengan suara melebihi batas wajar hingga mengganggu kesehatan atau merusak fasilitas hukumnya haram.
Begitu pula jika disertai joget dengan membuka aurat dan kemungkaran lainnya. Sementara penggunaan sound dengan volume wajar untuk kegiatan positif seperti resepsi, pengajian, dan sholawatan diperbolehkan selama tidak disertai hal yang diharamkan.
Fatwa inilah yang menjadi perdebatan dalam program tersebut. Pengusaha Sound Horeg Jawa Timur, Setyo Budi Mularso, secara terbuka mengkritik keputusan MUI Jawa Timur. Ia bahkan menyebut fatwa tersebut sebagai bentuk “kegoblokan” MUI Jawa Timur.
Jadi kalau saya sendiri terkait untuk haram bagi saya MUI Jawa Timur itu bagi saya sendiri itu sebuah kegoblokan MUI-nya sendiri,”
kata Setyo dikutip dari akun Instagram @sumbarterkini_id pada 10 September 2026.
Setyo mengaku, menghormati MUI Jawa Timur dan masyarakat Jawa Timur. Namun, ia menilai MUI seharusnya berperan dalam menata serta membina para pelaku sound horeg.
Subjektif
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin.
Ma’ruf mengatakan, pandangan yang disampaikan pengusaha sound horeg tersebut bersifat subjektif. Menurutnya, kondisi di lapangan tidak selalu seperti yang digambarkan dalam pernyataan tersebut.
Ia menyebut terdapat ribuan pemilik sound horeg dengan praktik yang berbeda-beda. Sebagian memang menaati aturan, tetapi MUI juga menerima laporan mengenai kegiatan yang dinilai melanggar ketentuan.
Yang beliau sampaikan ini adalah yang baik-baiknya saja. Sementara peristiwa-peristiwa yang memang di situ melanggar mulai dari aturan dan lain sebagainya tadi beliau bilang tidak ada dancer, itu mungkin di bagian beliau,”
ungkap Ma’ruf.
Ia kemudian menyinggung keberadaan penari hingga konsumsi minuman keras dalam sejumlah kegiatan sound horeg.
Di bagian realitas yang lain jauh lebih besar. Tinggal mudah kita melihat di YouTube bagaimana setiap ada yang namanya sound horeg selalu ada dancernya bahkan sudah mulai terang-terangan minum-minuman keras,”
lanjutnya.
Ma’ruf menegaskan, sikap MUI bukan dimaksudkan untuk menghambat masyarakat, melainkan sebagai upaya menjaga agar aktivitas tersebut tidak menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Reaksi Netizen
Potongan video tersebut kemudian memancing beragam reaksi dari netizen. Sebagian warganet menyoroti cara penyampaian pengusaha sound horeg, sementara lainnya menyatakan dukungan terhadap sikap MUI Jawa Timur.
Dari cara ngomong keliatan mana yang berilmu, dan mana yg kosong,”
tulis akun wisnu0718.
Ada pula netizen yang menyindir pola pikir pengusaha tersebut dengan mengaitkannya dengan suara keras sound horeg.
Pola pikirnya rusak, kena getaran horeg,”
sindir @nurulyaqinn.
Dukungan terhadap MUI juga disampaikan akun @adialand. Ia menilai persoalan sound horeg tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga dampak kegiatan yang ditampilkan di ruang publik.
Saya adalah orang yg sepakat dengan MUI karena realitanya sound horeg memang seperti diskotik berjalan banyak keburukan yg di pertontonkan & mirisnya anak” kecil melihat itu semua,”
tulisnya.
Sementara itu, akun @bunayya_amrullah mempertanyakan bagaimana sikap pelaku sound horeg lainnya jika perwakilan yang tampil dalam diskusi tersebut dianggap sebagai salah satu pembicara dari komunitas tersebut.
Ini level pembicara paling tinggi di komunitas sound horeg yang rendah gimana ya, kalau yg tinggi aja seperti itu,”
tulisnya.
Tak satir kocak komentar lain datang dari @triagungatmojo yang membuat perbandingan antara diskotek dan fenomena sound horeg.
Dulu diskotik dijauhi karena ada miras dan adegan vulgarnya. Sekarang diskotik turun ke jalan dengan goyang-goyangnya dan dinikmati anak kecil. Wahhh parah parah,”
tulisnya.
























