Generasi Z atau Gen Z memiliki cara pandang yang semakin beragam dalam menyikapi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pernikahan dan keputusan memiliki anak hingga batasan dalam kehidupan pribadi orang lain.

Alih-alih mengikuti standar sosial yang selama ini dianggap sebagai keharusan, sebagian Gen Z mulai mempertanyakan kembali pilihan hidup yang kerap dipandang sebagai norma di masyarakat.

Fenomena itu salah satunya terlihat dalam konten TikTok yang diunggah akun @renagriselda. Dalam konten itu, ia membahas tiga pola pikir yang dinilainya banyak digaungkan oleh kalangan Gen Z.

Lantas, apa saja mindset tersebut? Berikut pembahasannya

  1. Lebih Baik Telat Menikah

Siapa yang sering di tanya kapan nikah? Nah, kalau dulu nikah dianggap sebagai salah satu pencapaian hidup yang harus dilakukan pada usia tertentu.

Tapi, sekarang Gen Z mulai melihat pernikahan dengan sudut pandang berbeda. @renagriselda menyebut Gen Z cenderung tak ingin menikah hanya karena usia, tuntutan keluarga, atau takut tertinggal dari teman sebaya.

Dalam konten tersebut, @renagriselda mengatakan kebanyakan Gen Z sekarang punya anggapan lebih baik terlambat menikah atau bahkan tak menikah sama sekali daripada memaksakan diri bersama dengan orang yang dianggap tidak tepat.

Prinsipnya sederhana yaitu lebih baik bahagia meski sendiri daripada terlihat ramai bersama pasangan, tetapi justru merasa sengsara.

Bagi sebagian anak muda, pernikahan sekarang bukan lagi sekadar soal status. Karena ada pertimbangan mengenai kesiapan emosional, kecocokan pasangan, kondisi finansial, hingga kemampuan menjalani kehidupan bersama.

  1. Tidak Ingin Punya Anak Sebelum Benar-benar Siap

Mindset kedua berkaitan dengan keputusan memiliki anak. Dalam kontennya, @renagriselda menyinggung pilihan childfree dan pentingnya menyadari kesiapan diri sebelum memutuskan untuk memiliki anak.

Menurut sudut pandang yang disampaikannya, memiliki banyak anak bukan otomatis menjadi tanda keberhasilan jika orang tua belum mampu memenuhi kebutuhan anak secara layak.

Begitu juga dengan kondisi mental dan emosional. Jika seseorang merasa dirinya sendiri masih memiliki banyak hal yang belum selesai, sebaiknya pertimbangkan untuk tidak buru-buru membawa manusia lain ke dalam kehidupannya.

Artinya, memiliki anak dipandang sebagai keputusan besar yang membutuhkan kesiapan. Bukan sekadar mengikuti ekspektasi sosial.

  1. Sadar Diri dan Tidak Kepo

Mindset ketiga terdengar sederhana, Namun, cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu sadar diri.

@renagriselda menyinggung bahwa seseorang sebaiknya fokus mengurus kehidupannya sendiri sebelum terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain.

Termasuk dalam hal ini adalah kebiasaan menanyakan pertanyaan pribadi seperti, “Kapan menikah?“, “Kapan punya anak?”, atau “Kapan punya rumah?”

Pertanyaan yang bagi sebagian orang terdengar biasa ternyata bisa menjadi sesuatu yang tidak nyaman bagi orang lain.

Karena itu, daripada sibuk mengomentari pencapaian hidup orang lain, Gen Z disebut lebih fokus pada urusan masing-masing.

Jadi, bagi Gen Z hidup bukanlah suatu perlombaan untuk memenuhi checklist yang dibuat orang lain, seperti menikah, punya anak, punya rumah, atau memilih hidup sendiri. Karena semuanya punya waktunya masing-masing.

Buat Gen Z, standar hidup bukan lagi soal “kata orang”, tetapi tentang keputusan yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan kepada diri sendiri.

Nah, daripada sibuk mengejar validasi orang lain, mungkin sudah waktunya fokus pada satu hal yang paling penting yaitu hidup tenang, dompet aman, mental nyaman, dan saldo tetap datang.