Urutan kelahiran dalam sebuah keluarga kerap dikaitkan dengan karakter dan perilaku anak. Anak sulung, anak tengah, hingga anak bungsu sering dianggap memiliki kepribadian yang berbeda karena posisi mereka di dalam keluarga.
Anak pertama, misalnya, sering digambarkan sebagai sosok yang lebih bertanggung jawab, mandiri, dan dominan. Sementara itu, anak tengah kerap dianggap lebih mudah beradaptasi serta memiliki kecenderungan menjadi penengah ketika terjadi persoalan di antara anggota keluarga.
Berbeda lagi dengan anak bungsu yang sering dilekatkan dengan karakter manja. Si bungsu dianggap senang mencari perhatian, hingga lebih berani mengambil risiko.
Anggapan mengenai karakter berdasarkan urutan kelahiran tersebut telah lama berkembang di masyarakat. Bahkan, posisi seorang anak dalam keluarga terkadang digunakan untuk menjelaskan perbedaan sifat maupun perilakunya dibandingkan saudara-saudaranya.
Namun, benarkah urutan kelahiran dapat menentukan kepribadian seseorang?
Dilansir dari laman Universitas IPB pada 3 Oktober 2026, berikut penjelasan dari ahli.
Teori Adler
Salah satu teori yang sering dikaitkan dengan karakter berdasarkan urutan kelahiran adalah teori Alfred Adler, psikiater asal Austria yang mengembangkan pemikirannya pada awal abad ke-20.
Teori ini mengaitkan posisi anak dalam keluarga dengan perkembangan kepribadiannya. Dalam teori Adler, anak sulung cenderung dikaitkan dengan rasa tanggung jawab yang kuat, sedangkan anak tengah dianggap lebih mudah beradaptasi dan berusaha menjadi penengah.
Sementara itu, anak bungsu kerap digambarkan lebih suka mencari perhatian, berjiwa bebas, hingga berani mengambil risiko.
Perhatian Orang Tua Memengaruhi
Meski demikian, perbedaan karakter tersebut tidak serta-merta disebabkan oleh urutan kelahiran. Prof. Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi Universitas IPB menjelaskan pola asuh dan perhatian orang tua menjadi bagian dari lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak.
Perbedaan perhatian dan pola asuh orang tua pada anak yang berpengaruh pada perkembangan kepribadian anak, bukan ditentukan oleh urutan kelahirannya,”
jelas Prof. Ronny.
Anak sulung, misalnya, biasanya mendapatkan perhatian lebih besar ketika pertama kali hadir dalam keluarga. Orang tua juga masih belajar mengasuh anak sehingga pola pengasuhan yang diberikan dapat berbeda ketika memiliki anak berikutnya.
Genetik dan Lingkungan
Kepribadian anak juga tidak hanya dibentuk oleh pengalaman di dalam keluarga. Prof. Ronny menjelaskan bahwa faktor genetik berkontribusi sekitar 50 persen terhadap kepribadian, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Secara umum dapat dikatakan sifat dan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, status sosial keluarga, sumber daya keluarga, faktor kesehatan, gaya pengasuhan, dan variabel lingkungan lainnya,”
tuturnya.
Faktor lain seperti jarak usia antarsaudara, jenis kelamin saudara, usia orang tua, dan jumlah anak dalam keluarga juga dapat memengaruhi pengalaman anak selama tumbuh.
Berbeda di Lingkungan Lain
Karakter yang terbentuk di dalam keluarga juga dapat mengalami variasi ketika anak berada di lingkungan berbeda. Seorang anak bisa menunjukkan perilaku yang berbeda ketika berada di rumah, sekolah, atau lingkungan pertemanan karena menghadapi situasi dan pengalaman yang tidak sama.
Prof. Ronny menjelaskan kondisi tersebut sebagai interaksi antara faktor genetik dan lingkungan atau G×L (gene-environment interaction).
Secara sederhana, kepribadian atau fenotipe merupakan hasil gabungan faktor genetik, lingkungan, serta interaksi keduanya yang digambarkan melalui persamaan P = G + L + G×L.
Benarkah Urutan Lahir Berpengaruh?
Berbagai penelitian dengan data yang masif menunjukkan bahwa urutan kelahiran tidak berpengaruh nyata terhadap kepribadian anak. Artinya, karakter yang selama ini dilekatkan pada anak sulung, tengah, atau bungsu tidak bisa dijadikan patokan untuk menentukan seperti apa kepribadian seseorang.
Tidak dapat dimungkiri bahwa urutan kelahiran terkait dengan lingkungan yang diberikan seperti perhatian, fasilitas kasih sayang, cara mengasuh yang kesemuanya ini tergabung dalam faktor lingkungan yang kompleks dan akan bergabung dengan faktor genetik membentuk sifat dan kepribadian anak,”
ujar Prof. Ronny.
Jadi, anak sulung tidak otomatis lebih bertanggung jawab, anak tengah tidak selalu menjadi penengah, dan anak bungsu tidak selalu manja. Kepribadian anak terbentuk melalui perpaduan banyak faktor, bukan semata-mata karena kapan ia dilahirkan dalam keluarga.






