Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Teman Selalu Merasa Paling Hebat? Waspadai Perilaku yang Kerap Disebut Star Syndrome

Star syndrome merupakan istilah untuk seseorang yang ingin selalu jadi sorotan dan dapat pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Ilustrasi perilaku Star Syndrome
Ilustrasi perilaku Star Syndrome. (Foto: Pexels/Thirdman).

Pernah punya teman yang selalu ingin menjadi pusat perhatian? Sedikit-sedikit memamerkan pencapaian, merasa paling hebat, atau tiba-tiba ngambek ketika orang lain mendapat pujian?

Mengutip Alodokter, Sabtu, 10 Oktober 2026, star syndrome merupakan istilah popular untuk kecenderungan seseorang yang ingin selalu jadi sorotan dan mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sekitarnya.

Sekilas kondisi ini mirip dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Namun, NPD adalah gangguan mental klinis yang bersifat permanen.

Iklan

Sementara, star syndrome adalah istilah psikologi populer untuk perubahan perilaku sementara akibat popularitas atau kesuksesan.

Lantas, bagaimana cara mengenali perilaku ini? Yuk, simak penjelasan berikut.

7 Tanda Star Syndrome yang Perlu Kamu Kenali

Ada beberapa perilaku yang bisa menjadi tanda kecenderungan star syndrome.

  1. Merasa paling hebat: Selalu menganggap diri lebih pintar, lebih menarik, atau lebih unggul dibandingkan orang lain.
  2. Haus pujian: Merasa senang ketika dipuji. Tetapi, mudah kecewa saat pencapaiannya tidak mendapat perhatian.
  3. Anti kritik: Bukannya menerima masukan, justru langsung defensif atau menyalahkan orang lain.
  4. Ingin diperlakukan spesial: Merasa dirinya pantas mendapatkan perlakuan lebih istimewa daripada orang lain.
  5. Suka merendahkan orang lain: Menganggap pencapaian orang lain tidak seberapa demi membuat dirinya terlihat lebih hebat.
  6. Kurang berempati: Terlalu fokus pada kepentingan sendiri sampai lupa mempertimbangkan perasaan orang lain.
  7. Suka pamer berlebihan: Selalu membicarakan pencapaian diri sendiri, bahkan terkadang melebih-lebihkannya demi mendapat pengakuan.

Meski demikian, jangan buru-buru memberi label star syndrome kepada seseorang hanya karena menunjukkan satu atau dua perilaku tersebut. Penilaian perlu pertimbangkan pola perilaku secara keseluruhan dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Cara Menghindari Star Syndrome?

Percaya diri dan bangga terhadap pencapaian sendiri tentu bukan hal yang salah. Namun, jangan sampai keinginan untuk terlihat hebat membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Ada beberapa hal sederhana yang bisa mulai dibiasakan, seperti belajar menerima kritik, menghargai keberhasilan teman. Lalu, tak terus-menerus mencari validasi di media sosial dan berusaha memahami perasaan orang lain.

Kalau kamu menyadari kebiasaan itu mulai mengganggu hubungan dengan teman atau keluarga, tidak ada salahnya mengevaluasi diri dan mencari bantuan psikolog jika diperlukan.

Mengutip Halodoc, perilaku narsistik dapat mempengaruhi hubungan dan berbagai aspek kehidupan seseorang. Namun, star syndrome tak otomatis berarti gangguan kepribadian narsistik sehingga diagnosisnya tetap perlu dilakukan oleh profesional.

Jadi, kamu tidak harus selalu menjadi pusat perhatian untuk membuktikan bahwa dirimu berharga. Sebab, menjadi hebat bukan berarti harus terlihat lebih tinggi dengan membuat orang lain tampak lebih rendah.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Internship

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.