Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Merasa Egois Saat Menolak Ajakan Teman atau Pasangan? Bisa Jadi Kamu Terjebak Guilt Tripping

Guilt tripping bisa jadi bentuk manipulasi emosional yang membuat seseorang merasa bersalah agar menuruti keinginan orang lain.

Ilustrasi pasangan remaja tengah mengobrol.
Ilustrasi pasangan remaja tengah mengobrol. (Foto: Pexels/RDNE Stock project).

Pernah merasa bersalah karena menolak ajakan teman, memilih me time daripada menemani pasangan, atau merasa memiliki utang budi setelah dibantu seseorang?

Hati-hati, perasaan tersebut bisa berkaitan dengan guilt tripping, yaitu bentuk manipulasi emosional yang membuat seseorang merasa bersalah agar menuruti keinginan orang lain.

Dalam situasi ini, rasa bersalah kerap digunakan untuk memengaruhi keputusan, membatasi kebebasan, atau membuat seseorang merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

Iklan

Dikutip dari Cleveland Clinic, Senin, 12 Oktober 2026, guilt tripping merupakan perilaku yang memanfaatkan rasa bersalah dan ikatan emosional untuk mempengaruhi tindakan seseorang. Perilaku ini bisa terjadi dalam hubungan percintaan, pertemanan, keluarga, hingga lingkungan kerja.

Sekilas, tindakan ini mungkin terlihat seperti ungkapan kecewa biasa. Namun, jika rasa bersalah terus digunakan untuk menekan atau mengendalikan keputusanmu, hubungan tersebut patut diwaspadai bahkan masukan dalam kategori toxic relationship.

Berikut 5 Ciri-ciri guilt tripping yang perlu diwaspadai:

Berikut beberapa ciri guilt tripping yang dekat dengan kehidupan Gen Z sehari-hari.

  1. Suka mengungkit pengorbanan

Seseorang biasanya akan menggunakan kalimat yang membuatmu merasa berhutang budi dan kesulitan menolak permintaan orang lain. Padahal, bantuan yang diberikan tak seharusnya jadi alat untuk mengendalikan seseorang.

Contoh Kalimatnya: “Setelah semua yang aku lakukan buat kamu, masa kamu nggak bisa bantu aku?”

  1. Membuatmu merasa bersalah saat menolak

Pelaku juga bisa menggunakan perasaanmu sebagai alasan agar kamu menuruti keinginannya. Akibatnya, kamu bisa merasa egois hanya karena ingin beristirahat atau memiliki waktu sendiri.

Contoh kalimatnya: “Kalau kamu benar-benar sayang aku, harusnya kamu mau.”

  1. Terus mengungkit kesalahan masa lalu

Setiap bertengkar, selalu saja mengungkit-ungkit kesalahan yang terjadi di masa lalu. Padahal, masalah tersebut sebenarnya sudah diselesaikan. Namun, terus digunakan untuk menekanmu agar kamu merasa bersalah dan lawan bicaramu menang..

  1. Melakukan silent treatment

Seseorang mendadak mendiamkanmu setelah keinginannya tidak terpenuhi. Kamu pun sibuk menebak kesalahan sendiri dan meminta maaf agar hubungan kembali membaik.

Perlu diingat, mengambil waktu untuk menenangkan diri bukan otomatis manipulasi. Namun, mendiamkan seseorang sebagai hukuman agar ia menuruti keinginanmu bisa menjadi bentuk tekanan emosional.

  1. Membuatmu bertanggung jawab atas emosinya

Ada juga yang biasanya menggunakan kalimat yang membuatmu merasa harus selalu mengalah agar orang lain tidak kecewa. Padahal, setiap orang perlu belajar menyampaikan dan mengelola emosinya tanpa membebankan seluruh tanggung jawab kepada orang lain.

Contoh kalimat: “Aku sedih gara-gara kamu. Kamu memang nggak pernah mikirin perasaanku.”

Bagaimana Cara Menghadapi Guilt Tripping?

Menurut Cleveland Clinic, menetapkan batasan dan berkomunikasi secara tegas dapat membantu seseorang menghadapi guilt tripping.

Jika mengalaminya, cobalah mengenali perasaanmu sebelum mengambil keputusan. Kamu juga bisa menyampaikan batasan dengan tenang, misalnya, “Aku paham kamu kecewa, tetapi aku juga punya kebutuhan sendiri. Tolong hargai keputusanku.”

Ingat, tak semua ungkapan kecewa termasuk guilt tripping. Namun, jika seseorang terus menggunakan rasa bersalah untuk menekan, mengendalikan, atau membuatmu takut berkata tidak, kamu perlu mengevaluasi hubungan tersebut.

Kamu boleh peduli kepada orang lain tanpa harus selalu mengorbankan diri sendiri. Jika situasi ini mulai mengganggu kesehatan mental dan aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari dukungan dari orang terpercaya atau berkonsultasi dengan psikolog.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Internship

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.