Namun, juga harus memastikan lapisan gambut yang terbakar kembali basah agar api tak terus menyala di bawah tanah.
Mengutip penjelasan yang diunggah akun Instagram @hfdz.dev, kebakaran gambut punya karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Api tak hanya membakar pepohonan dan semak. Namun, juga merambat ke lapisan tanah yang kaya akan material organik.
Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dan mengalami proses penguraian selama ratusan hingga ribuan tahun. Dalam kondisi alami, lahan gambut menyimpan banyak air sehingga relatif sulit terbakar.
Namun, kondisi itu berubah ketika lahan gambut dikeringkan untuk kepentingan tertentu. Hal itu termasuk pembukaan perkebunan kelapa sawit dan akasia. Salah satu caranya adalah dengan membangun kanal untuk mengalirkan air keluar dari lahan.
Pengeringan membuat permukaan dan lapisan gambut kehilangan kelembapannya. Ketika mengering, gambut jadi lebih mudah terbakar dan api bisa menjalar hingga ke bagian bawah permukaan tanah.
Inilah salah satu alasan kebakaran gambut sulit dipadamkan. Meski api di permukaan telah berhasil dikendalikan, bara di dalam tanah masih dapat bertahan dan kembali memicu kebakaran.
Maka itu, pemadaman membutuhkan upaya pembasahan menyeluruh. Bukan hanya penyiraman pada titik api yang terlihat.
Masalah ini pernah terjadi dalam proyek lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan Tengah pada 1996–1998. Pembangunan ribuan kilometer kanal mengubah tata air kawasan tersebut dan membuat sebagian lahan gambut lebih rentan mengering.
Saat kebakaran terjadi, api bisa merambat ke bawah permukaan tanah. Penyiraman dari udara memang membantu memadamkan api di permukaan. Namun, belum tentu menjangkau bara di dalam gambut.
Karena itu, penanganan kebakaran gambut juga membutuhkan upaya menjaga air tetap berada di dalam tanah. Rusia, Malaysia, dan Amerika Serikat memiliki pengalaman dalam menangani persoalan ini.
Lantas bagaimana cara mereka menangani kebakaran gambut agar tidak terus berulang?
- Rusia Membasahi Kembali Lahan Gambut
Rusia pernah mengalami kebakaran gambut di sejumlah wilayah, termasuk Moskow pada musim panas 2010. Kebakaran tersebut menghasilkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Setelah kejadian tersebut, Rusia memperkuat upaya pemulihan lahan gambut yang sebelumnya dikeringkan. Salah satu caranya adalah rewetting, yaitu membasahi kembali lahan gambut dengan mempertahankan air di dalam tanah.
Caranya bukan sekadar menyiram gambut, mereka menahan air agar tidak terus mengalir keluar. Salah satu langkahnya adalah membangun bendungan kecil di kanal drainase.
Melansir dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Rusia telah berhasil memulihkan lebih dari 35.000 hektare lahan gambut, serta memulihkan vegetasi, dan pemantauan kondisi lahan untuk menjaga kawasan gambut.
- Malaysia Mengatur Ketinggian Air
Malaysia juga menghadapi risiko kebakaran gambut, terutama di kawasan yang dikeringkan untuk perkebunan dan penggunaan lahan lainnya.
Ketika air terus mengalir keluar, gambut kehilangan kelembapan dan menjadi lebih mudah terbakar. Karena itu, pengaturan tata air menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan kebakaran.
Salah satu cara yang dilakukan Malaysia adalah membangun sekat atau bendung kecil di kanal untuk menahan air agar tidak membuat gambut kering.
Upaya ini diterapkan bersama perlindungan hutan rawa gambut dan pemulihan vegetasi. Salah satu kawasan yang menjadi contoh pengelolaan tersebut adalah Hutan Rawa Gambut North Selangor.
Pengelolaannya mencakup pengaturan tata air, rehabilitasi lahan, perlindungan hutan, serta kerja sama dengan masyarakat dan pihak yang menggunakan lahan di sekitarnya.
Malaysia lebih memilih menggunakan pencegahan kebakaran sebelum api muncul dengan menjaga kelembapan gambut, meskipun keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi lahan dan konsistensi pengelolaan.
- Amerika Serikat Memompa Air ke Lokasi Kebakaran
Amerika Serikat juga pernah menghadapi kebakaran gambut di Great Dismal Swamp, kawasan rawa yang berada di Virginia dan North Carolina.
Kebakaran pada 2008 dan 2011 terjadi ketika kondisi lahan mengering. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan gambut sehingga sulit dipadamkan.
Untuk mengatasinya, petugas menggunakan pompa besar guna mengalirkan air melalui kanal menuju kawasan yang terbakar. Struktur pengendali air juga digunakan untuk membantu mengatur aliran menuju lokasi kebakaran.
Namun, memompa air bukan perkara sederhana. Ketika gambut sudah sangat kering, air dapat meresap ke tanah di sekitar kanal tanpa membasahi seluruh lapisan yang terbakar.
Akibatnya, api dapat bertahan selama berbulan-bulan. Petugas harus memastikan air benar-benar mencapai bagian gambut yang masih menyimpan bara.
Pengalaman Amerika Serikat menunjukkan bahwa pemadaman gambut perlu disesuaikan dengan kedalaman api, kondisi tanah, dan ketersediaan air. Mengalirkan air ke lokasi kebakaran saja belum tentu cukup jika bara sudah menyebar jauh ke bawah permukaan.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Pengalaman Rusia, Malaysia, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa kebakaran gambut membutuhkan dua upaya sekaligusyakni pemadaman api dan pemulihan kondisi lahan agar tetap basah.
Indonesia sendiri telah menjalankan restorasi gambut, salah satunya melalui pembangunan sekat kanal. Infrastruktur ini berfungsi menahan air agar tidak terus mengalir keluar dan membuat gambut semakin kering.
Namun, membangun sekat kanal saja tidak cukup. Lokasi, kondisi lahan, dan kemampuan sekat dalam mempertahankan air turut menentukan keberhasilannya.
Penelitian yang terbit di jurnal iScience pada Juni 2026 mengevaluasi 3.840 sekat kanal di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara restorasi gambut dan kebakaran selama periode 2017-2022.
Hasilnya menunjukkan bahwa efektivitas sekat kanal berbeda-beda menurut lokasi. Sekat kanal dengan area pembasahan yang saling tumpang tindih memberikan hasil lebih baik dalam mencegah kebakaran.
Dalam pemodelan penelitian tersebut, penerapan praktik terbaik pada seluruh sekat kanal yang dievaluasi berpotensi menghindari hingga 6,4 persen luas area terbakar. Angka ini merupakan hasil pemodelan, bukan bukti bahwa luas kebakaran di lapangan telah turun sebesar itu.
Temuan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan restorasi tidak cukup diukur dari jumlah sekat kanal yang dibangun. Pemerintah juga perlu memastikan sekat berfungsi dengan baik dan air tetap tertahan di lahan gambut.
Di tengah ancaman karhutla, pemadaman harus berjalan bersamaan dengan pencegahan. Pengeringan lahan dan kerusakan tata air perlu ditangani agar gambut tidak terus menjadi sasaran kebakaran.
Gambut membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun untuk terbentuk, tetapi kebakaran dapat merusaknya dalam waktu singkat. Karena itu, memadamkan api saja tidak cukup, tapi juga perlu menjaga gambut tetap basah untuk menekan risiko kebakaran berulang.