Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Jangan Anggap Sepele! Ketergantungan AI Bisa Bikin Anak Kehilangan Kemampuan Kritis

Penting jangan sampai anak tergantung dengan AI. Kemampuan daya kritis akan berpengaruh jika tergantung AI.

Ilustrasi anak bermain Hp.
Ilustrasi anak bermain Hp. (Foto: Unsplash/Ron Sinda).

Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi cara anak mencari informasi, menjawab pertanyaan, dan menyelesaikan persoalan sehari-hari.

Namun, penggunaan AI secara berlebihan berisiko membuat anak kehilangan kemandirian, membentuk kepribadian, hingga mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Jangan sampai anak kita menjadi tergantung dengan artificial intelligence sehingga mereka kehilangan kepribadiannya sendiri, mereka kehilangan kemampuan berpikir kritis,”

kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dalam keterangan resmi, Senin, 19 Oktober 2026.

Nezar mengingatkan agar anak tak terlalu bergantung pada AI. Hal itu terutama dalam proses belajar dan mengembangkan kemampuan berpikir.

Iklan

Menurutnya, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan kemampuan anak untuk berpikir mandiri dan membangun kepribadiannya sendiri.

Ini yang saya kira paling berisiko buat generasi kita ke depan,”

ujar Nezar.

Pun, dia mengatakan, sekitar 70 juta anak Indonesia akan tumbuh di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks, termasuk dengan kehadiran AI. Kondisi ini membuat pendampingan orang tua menjadi penting agar anak bisa memanfaatkan teknologi secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Menurutnya, upaya menciptakan lingkungan digital yang sehat tak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan orang tua diperlukan untuk memastikan anak mampu memanfaatkan teknologi sekaligus memahami berbagai risiko yang menyertainya.

Selain ketergantungan terhadap AI, Nezar mengingatkan adanya sejumlah ancaman lain dalam interaksi digital anak. Risiko itu mencakup kontak dengan orang asing, paparan konten yang tidak sesuai usia, ancaman terhadap data pribadi, hingga kecanduan digital.

Maka itu, orang tua perlu menerapkan pola pengasuhan digital melalui komunikasi terbuka dan pendampingan yang konsisten. Orang tua juga perlu memahami fitur keamanan yang tersedia serta membangun kebiasaan berdiskusi dengan anak mengenai aktivitas digital mereka. Aktivitas itu termasuk saat menggunakan AI untuk belajar dan mencari informasi.

Dengan pendampingan tersebut, anak diharapkan tak sekadar memperoleh jawaban dari teknologi. Namun, juga mampu menilai informasi secara kritis, memahami konsekuensi penggunaannya, dan mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri.

Di sisi lain, pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS. Regulasi ini jadi landasan untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman dan sehat bagi anak.

Nezar menyampaikan perlindungan anak di ruang digital merupakan tanggung jawab bersama yang penting bagi masa depan generasi Indonesia.

Dia bilang pemerintah punya tanggung jawab yang cukup besar menjamin ruang yang aman dan sehat buat perlindungan anak.

Itu sebabnya pemerintah membuat PP TUNAS dalam rangka membangun ruang aman dan sehat bagi anak di dalam ekosistem digital. Melindungi anak kita adalah melindungi peradaban,”

tutur Nezar.

ti

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.