Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

Berkendara Jauh Jangan Abaikan Kantuk! Ini Tanda Microsleep yang Wajib Diwaspadai

Microsleep saat berkendara dapat membahayakan keselamatan, sehingga pengemudi perlu cukup istirahat dan tidak memaksakan diri ketika mengantuk.

Microsleep Saat Berkendara: Tidur Sejenak yang Bisa Berujung Kecelakaan, Kenali Tanda-Tandanya
Bermotoran (Foto: Unsplash/Alexey Malakhov)

Perjalanan jauh menggunakan mobil atau sepeda motor membutuhkan konsentrasi dan kondisi tubuh yang prima. Namun, rasa kantuk yang muncul selama perjalanan sering kali dianggap sepele.

Padahal, ada kondisi berbahaya bernama microsleep yang dapat membuat pengemudi tertidur tanpa disadari. Bahkan, kondisi itu terjadi ketika sedang memegang kemudi.

Fenomena ini patut diwaspadai, terutama saat perjalanan jauh, mudik, maupun berkendara pada malam hari.

Iklan

Bukan Kantuk Biasa

Microsleep merupakan kondisi tertidur dalam waktu sangat singkat, mulai dari sepersekian detik hingga beberapa detik. Meski berlangsung singkat, kondisi ini dapat menyebabkan pengemudi kehilangan kendali atas kendaraan dan terlambat merespons situasi di jalan.

Microsleep terjadi ketika otak mengalami episode tidur singkat meskipun seseorang sedang berusaha tetap terjaga. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kurang tidur, kelelahan, serta aktivitas monoton dalam waktu lama.

Berbeda dengan rasa kantuk biasa, microsleep dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap lingkungan sekitarnya selama beberapa detik.

Akibatnya, pengemudi mungkin tidak menyadari kendaraan mulai keluar jalur, melewati rambu, atau mendekati kendaraan lain. Kondisi tersebut sangat berbahaya karena situasi lalu lintas dapat berubah dalam hitungan detik.

Terjadi Kapan Saja

Dalam Jurnal Kesehatan Saelmakers Perdana yang dikutip pada Jumat, 6 November 2026 mengamati pengalaman microsleep pada 419 mahasiswa Universitas Padjadjaran yang mengemudi kendaraan.

Hasilnya menunjukkan bahwa jalan lurus dan panjang tanpa banyak hambatan menjadi situasi yang paling sering dilaporkan memicu microsleep, dengan persentase mencapai 63,5 persen responden.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa jalan yang terlihat aman dan minim gangguan justru bisa membuat pengemudi kehilangan kewaspadaan akibat kondisi perjalanan yang monoton.

Penelitian ini sekaligus mengingatkan bahwa microsleep tak hanya berisiko terjadi saat perjalanan malam. Namun, juga ketika berkendara pada siang hari.

Mengalami Drowsy Driving

Risiko berkendara dalam kondisi mengantuk juga terlihat dalam penelitian berjudul Prevalence of Drowsy Driving and Modeling Its Intention: An Indonesian Case Study dalam jurnal Transportation Research Interdisciplinary Perspectives tahun 2023.

Penelitian tersebut menemukan bahwa 79 persen responden di Indonesia pernah mengalami berkendara dalam kondisi mengantuk. Bahkan, 32 persen responden mengaku pernah mengalami kejadian nyaris kecelakaan (near-miss accident) ketika mengemudi dalam keadaan mengantuk.

Temuan ini memperlihatkan bahwa rasa kantuk saat berkendara bukan persoalan sepele. Pengemudi yang memaksakan perjalanan meskipun tubuh sudah lelah berisiko membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Tanda-tanda Microsleep

Microsleep terkadang sulit dikenali karena dapat terjadi tanpa disadari. Namun, terdapat sejumlah tanda yang perlu diperhatikan sebelum berkendara maupun selama perjalanan, antara lain:

  • Mata terasa berat dan sering berkedip.
  • Menguap berulang kali.
  • Sulit mempertahankan fokus pada jalan.
  • Kepala beberapa kali mengangguk.
  • Tidak mengingat beberapa detik perjalanan terakhir.
  • Kendaraan mulai berjalan tidak stabil atau keluar dari jalur.

Jika mengalami tanda-tanda tersebut, pengemudi sebaiknya tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan.

Cara Mencegah

Menjaga keselamatan perjalanan tidak cukup hanya dengan memastikan kendaraan dalam kondisi baik. Pengemudi juga perlu memperhatikan kondisi tubuh agar tetap waspada.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko microsleep meliputi:

  • Tidur yang cukup. Pastikan tubuh mendapatkan waktu tidur memadai sebelum melakukan perjalanan jauh.
  • Beristirahat secara berkala. Berhenti di tempat aman ketika mulai merasa lelah atau mengantuk.
  • Bergantian mengemudi. Jika bepergian bersama orang lain yang memiliki kemampuan mengemudi, manfaatkan kesempatan untuk beristirahat.
  • Jangan memaksakan perjalanan malam. Hindari berkendara ketika tubuh sudah memasuki waktu istirahat.
  • Berhenti ketika mengantuk. Jika kantuk mulai muncul, segera menepi di tempat aman dan tidur sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Perlu diingat, membuka jendela, menyalakan musik keras, atau mengonsumsi kopi bukan pengganti tidur dan tidak dapat diandalkan untuk mencegah microsleep.

Keselamatan perjalanan bukan tentang seberapa cepat sampai tujuan, melainkan bagaimana memastikan semua orang tiba dengan selamat.

Iklan