Ketegangan di perbatasan Thailand–Kamboja kembali meningkat setelah militer Thailand menuduh Kamboja menjadikan situs-situs bersejarah sebagai tempat penyimpanan logistik dan titik serangan ke wilayah Bangkok.
Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Kolonel Richa Suksuwanon, mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah menghimpun bukti berupa foto dan rekaman video yang menunjukkan aktivitas tersebut.
Kami telah mengumpulkan sejumlah dokumentasi yang mengindikasikan penggunaan situs-situs budaya itu sebagai benteng, gudang senjata, hingga pos komando,”
ujar Richa dalam konferensi pers.
Thailand Akan Bela Diri
Richa menegaskan, bahwa situs arkeologi tidak seharusnya dijadikan sasaran serangan. Namun bila lokasi-lokasi tersebut dipakai sebagai bagian dari operasi militer oleh Kamboja dan mengancam keselamatan prajurit atau warga sipil Thailand, maka Bangkok berhak melakukan tindakan defensif.
Jika kami mendapati situs bersejarah itu dijadikan instalasi militer dan dipakai menyerang kami, langkah pertahanan adalah hal yang sah,”
tegasnya.
Menurut Richa, tindakan defensif tersebut juga selaras dengan hukum internasional, dan ia yakin komunitas global memahami posisi Thailand.
Bangkok Antisipasi Tuduhan Balik dari Kamboja
Militer Thailand mempercepat pengumpulan bukti karena memperkirakan Kamboja akan menuduh balik Thailand merusak situs warisan budaya di wilayah perbatasan kedua negara.
Sebelumnya, UNESCO sudah mengingatkan kedua negara agar tidak melibatkan Kuil Preah Vihear, situs warisan dunia yang selama ini menjadi titik panas konflik, dalam pertempuran bersenjata.
UNESCO mengingatkan, bahwa bentrokan di sekitar lokasi bersejarah berpotensi mengancam keberadaan kuil dan meminta kedua negara mematuhi kewajiban perlindungan budaya sesuai hukum internasional.
Jet Tempur dan Roket Dikerahkan
Pertempuran kembali pecah pada Senin 8 Desember 2025, setelah Thailand mengklaim satu prajuritnya tewas dalam baku tembak di perbatasan. Sebagai balasan, Thailand mengerahkan jet tempur untuk menggempur instalasi militer Kamboja.
Tak tinggal diam, Kamboja membalas dengan meluncurkan roket BM-21, bahkan ke beberapa area permukiman sipil di Thailand.
Hingga kini, peperangan di perbatasan telah menelan korban yang tidak sedikit korban di Thailand, 9 tentara tewas, Lebih dari 120 orang terluka, 3 warga sipil meninggal. Sementara korban di Kamboja 10 warga sipil tewas dan 60 orang luka-luka.
Konflik yang melibatkan wilayah budaya dan situs sejarah ini meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan bisa meluas menjadi krisis regional bila tidak segera ditangani.



