Pasca kepemimpinan tertinggi Iran berada di bawah kendali Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei yang menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, ia langsung mengikrarkan serangan balasan terhadap zionis Israel. Melalui Operasi ‘Janji Setia 4’ atau Va’deh Sadegh 4, Iran menargetkan wilayah-wilayah besar negara Zionis.
Dalam siaran pers Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia, Senin, 9 Maret 2026, Mojtaba Khamenei mengibarkan bendera perang atas agresi militer Amerika Serikat-Israel.
Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan menggunakan seluruh kemampuan dan kapasitasnya untuk menghadapi agresi kriminal ini hingga agresi tersebut dihentikan,”
tulis siaran pers Kedubes Iran yang diterima Owrite.id, Senin, 9 Maret 2026.
1.300 Anak-Anak dan Sipil Iran Menjadi Korban Agresi Militer AS-Israel
Pasca agresi Amerika Serikat-Israel yang melakukan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026 bertepatan dengan 10 Ramadan 1447, dilaporkan sebanyak 1.300 anak-anak dan warga sipil meninggal dunia.
Serangan tersebut juga merusak 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat perdagangan dan layanan, 32 pusat medis dan farmasi, 65 sekolah dan fasilitas pendidikan, 13 bangunan Perhimpunan Bulan Sabit Merah, serta sejumlah infrastruktur penyediaan energi.
Kedubes Iran juga merinci kerusakan yang terjadi pada infrastruktur vital seperti bandara sipil, pesawat penumpang, hingga fasilitas penyulingan air laut di Pulau Qeshm yang menjadi target penyerangan militer AS-Israel.
Kapal Perang Tak Bersenjata Iran Ikut Kena Agresi Saat Menuju India
Serangan AS-Israel semakin membuat Iran murka ketika salah satu kapal perang tak bersenjatanya bernama ‘Dena’ ikut dihancurkan dari jarak 2.000 mil laut dari pantai. Padahal kapal tersebut tengah dalam perjalanan ke India untuk memenuhi undangan Angkatan Laut negara tersebut dalam sebuah program pelatihan.
Akibatnya, sebanyak 104 awak kapal menjadi korban serangan angkatan perang AS-Zionis.
Kapal tersebut menjadi sasaran serangan di perairan internasional yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,”
tulis dalam siaran pers tersebut.
Himbauan ke Negara-negara Sahabat
Akibat ulah Presiden AS, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang terjadi selama 10 hari terakhir, Iran menyatakan memiliki hak untuk mempertahankan integritas teritorialnya sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Melalui Operasi ‘Janji Setia 4’, Iran menargetkan fasilitas militer milik AS maupun Israel yang dinilai menjadi pemicu pecahnya perang tersebut, di antaranya fasilitas militer AS yang berada di negara-negara sahabat.
Meski demikian, target operasi itu bukan dimaksudkan untuk memecah hubungan diplomatik Iran dengan negara tetangga lain. Iran masih ingin mempertahankan hubungan baik dengan negara-negara kawasan dan tidak memandangnya sebagai bentuk permusuhan.
Bahwa operasi pertahanannya terhadap pangkalan dan instalasi militer AS di kawasan sama sekali tidak boleh dipandang sebagai permusuhan terhadap negara-negara kawasan,”
bunyi siaran pers tersebut.
Iran juga menyindir keberadaan fasilitas militer AS di negara-negara sahabat yang dinilai gagal memberikan keamanan bagi kawasan, bahkan dianggap mendukung rezim Israel yang telah menewaskan ribuan korban tak berdosa.
Iran Tutup Rapat Pintu Diplomasi dengan AS
Negeri Paman Sam sendiri telah dicap Iran sebagai ‘pengkhianat’ karena dianggap menggugurkan tiga kali proses perundingan. ‘Pengkhianatan’ yang dimaksud yakni penarikan sepihak AS dari JCPOA pada 2018, serangan terhadap Iran pada Juni 2025, dan serangan terbaru terhadap Iran.
Dari ketiga hal tersebut, Iran menyatakan tidak akan membuka pintu diplomasi dengan AS karena dianggap sudah tidak dapat dipercaya. Namun demikian, Iran masih ingin membangun perdamaian selama harga dirinya tidak diinjak-injak.
Kami senantiasa berkomitmen pada perdamaian yang berkelanjutan di kawasan, namun dalam membela kehormatan dan kedaulatan kami, kami tidak akan pernah ragu,”
katanya.



