Perang informasi melalui manipulasi kecerdasan buatan atau deepfake kian masif di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Firman Kurniawan menyoroti teknologi ini secara sengaja digunakan untuk merekrut simpati dan memanipulasi emosi masyarakat global yang tidak ikut berperang. Disinformasi dalam masa konflik menciptakan kebingungan publik yang luar biasa.
Hasil akhir dari tersebarnya deepfake ini adalah ketidakpastian keadaan yang sesungguhnya. Maka, ketika perang terjadi, kebenaran menjadi korban yang paling pertama,”
ujar Firman, kepada owrite, Selasa, 10 Maret 2026.
Firman mencontohkan, deepfake dapat menyajikan dua sudut pandang kontras dari satu peristiwa fiktif untuk menggiring opini. Misal, saat beredar narasi palsu perihal kondisi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Jika narasi visual Khamenei yang disebar menunjukkan masyarakat Iran bergembira, hal itu bertujuan membangun citra bahwa tindakan AS didukung rakyat Iran. Sebaliknya, jika digambarkan bersedih, tujuannya adalah menarik simpati agar AS dikecam.
Contoh konkret lainnya ialah peredaran video palsu keberhasilan rudal Iran menghancurkan instalasi Israel. Meski akhirnya terbukti hoaks, pada saat informasi itu beredar, moral pasukan dan simpatisan Iran sempat naik, sementara di pihak lawan memicu kemarahan.
Jadi, deepfake ini memanipulasi emosi orang, tujuannya adalah untuk memperbesar dukungan masing-masing pihak. Publik dibuat pasang surut perasaannya antara mendukung dengan menghujat,”
jelas Firman.
Firman mengingatkan bahwa penyebaran deepfake juga dapat berdampak langsung pada dinamika politik di Indonesia, terutama ihwal masyarakat memandang posisi negara dalam konflik tersebut. Hal ini terlihat dari respons publik terhadap langkah diplomasi yang diambil pemerintah.
Misi perdamaian yang diinisiasi pemerintah ke Teheran, tanpa secara langsung mendekati AS dan Israel untuk menghentikan serangan, telah memicu tanda tanya di kalangan khalayak. Firman berpendapat sikap pemerintah tersebut dapat memunculkan persepsi bahwa Indonesia berpihak kepada Amerika Serikat dan Israel. Persepsi ini bakal sangat mudah terbakar oleh konten deepfake.
Ketika muncul deepfake peluru kendali Israel dan Amerika menghantam sekolah dan memakan korban murid, masyarakat Indonesia akan makin mengecam tindakan pemerintah yang dipersepsikan berpihak kepada AS dan Israel,”
kata Firman, merujuk pada munculnya kritik dari sejumlah tokoh nasional.
Bahaya deepfake tidak bisa dianggap remeh lantaran berpotensi memicu kepanikan massal. Firman mengambil contoh kasus di Prancis pada akhir Desember lalu, ketika beredar siaran palsu kudeta oleh seorang kolonel yang bahkan sempat dipercaya oleh pemimpin negara lain. Jika masyarakat termakan isu semacam itu, dampaknya bisa memicu kekacauan ekonomi, seperti penarikan uang massal di ATM atau pembelian karena kepanikan.
Di Indonesia, publik sempat digegerkan oleh video palsu petinggi militer Israel yang mengancam Indonesia dan mengklaim keberadaan mata-mata mereka di Tanah Air.
Paling tidak yang percaya itu muncul pikiran marah. Ternyata setelah ditelusuri berbagai media, tidak ada nama orang tersebut dan terbukti deepfake,”
kata Firman.
Untuk menangkal hal ini, Firman merekomendasikan metode prebunking atau pemberian “vaksin” terhadap persepsi dan cara berpikir masyarakat. Vaksinasi kognitif memiliki dua langkah utama:
- Menunda emosi: Tujuan utama deepfake adalah menurunkan rasionalitas dan menaikkan emosi. Masyarakat diimbau menunda keputusan untuk percaya, sekalipun konten tersebut sangat memancing amarah atau kesedihan;
- Verifikasi silang: Mengasumsikan semua yang keluar dari media sosial di masa perang perlu diperiksa kebenarannya. Bahkan pihak yang berperang pun, seperti dalam kasus Rusia dan Ukraina, bisa saling termakan hoaks deepfake tentang pernyataan menyerah atau damai palsu.
Eskalasi perang terbuka ini pecah hanya berselang sehari setelah kolapsnya perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa. Pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026, Israel dengan dukungan armada militer Amerika Serikat secara mendadak melancarkan operasi militer gabungan bersandi Lion’s Roar atau Epic Fury.
Gempuran udara dan rudal tersebut secara beruntun menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran termasuk situs Fordo, pangkalan militer, hingga area pusat pemerintahan di Teheran, serta merambah ke beberapa kota vital lainnya seperti Isfahan, Tabriz, dan Qom.
Dampak operasi gabungan ini memukul telak pucuk pimpinan tertinggi Iran. Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan tewas setelah salah satu gempuran menghancurkan area di dekat kantornya di Teheran, yang seketika membuat Iran menetapkan 40 hari masa berkabung nasional.
Respons Pemerintah
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Vahd Nabyl berkata pemerintah siap mengambil langkah konkret secara langsung jika para pihak berkonflik menyetujui mediasi.
Bahwa pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, telah resmi menyampaikan kesiapan memfasilitasi dialog guna membantu terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Apabila disetujui oleh para pihak, Presiden Republik Indonesia menyatakan kesediaannya untuk bertolak ke Teheran dalam rangka upaya mediasi dan de-eskalasi,”
ucap Vahd kepada owrite.
Hal ini sejalan dengan prinsip Indonesia mengenai pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara, serta tentunya kepatuhan terhadap hukum internasional dan nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam PBB.

