Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai Amerika Serikat bersikap tidak konsisten sehingga perundingan damai kedua negara berakhir tanpa kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun media sosial X setelah pembicaraan yang berlangsung intensif gagal mencapai titik temu.
Padahal pada kesempatan ini, Araghchi menegaskan bahwa Iran telah menunjukkan itikad baik dalam upaya mengakhiri konflik yang berlangsung. Namun hal tersebut tidak dilakukan dengan baik oleh pihak AS.
Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Tapi, ketika hanya tinggal beberapa inci dari ‘MoU Islamabad’, kami menghadapi maksimalisme, perubahan target, dan blokade,”
tulis Araghchi dalam akun media sosialnya.
Tidak sampai di situ saja, Araghchi juga menyayangkan sikap AS yang dinilai tidak belajar dari pengalaman sebelumnya. Padahal pihak dari Iran sudah ingin melakukan pertemuan ini dengan baik.
Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik melahirkan niat baik. Permusuhan melahirkan permusuhan,”
lanjut Araghchi.
Negosiasi 21 Jam Berakhir Buntu
Perundingan damai antara Iran dan AS yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad pada 12 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan. Pertemuan tersebut menjadi momen penting karena merupakan pembicaraan tatap muka pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance menyebut kebuntuan terjadi karena Iran menolak tuntutan utama dari Washington. Salah satu poin krusial adalah permintaan agar Iran menghentikan seluruh program nuklirnya.
Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran justru menilai AS mencari alasan untuk keluar dari pembicaraan. Menurut sumber tersebut, Washington tidak memenuhi sejumlah syarat yang telah diajukan sebelumnya oleh Teheran.
Tuntutan Iran dalam Negosiasi
Sebelum perundingan dimulai, Iran mengajukan sejumlah tuntutan penting, di antaranya pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, termasuk di Qatar, kendali atas Selat Hormuz, kompensasi atas kerugian perang, dan gencatan senjata di berbagai wilayah, termasuk Lebanon. Selain itu, Iran juga mengusulkan penerapan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Gagalnya perundingan ini menunjukkan bahwa perbedaan antara Iran dan AS masih sangat besar. Meski sempat mendekati kesepakatan, kedua pihak masih terjebak dalam perbedaan kepentingan yang sulit dijembatani.
Kebuntuan negosiasi ini berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama terkait jalur energi global dan konflik regional. Situasi ini juga menjadi sorotan dunia karena dapat berdampak luas terhadap stabilitas politik dan ekonomi global.



