Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam akan mengerahkan Angkatan Laut Amerika Serika untuk melakukan blokade di Selat Hormuz.
Ancaman ini disampaikan langsung oleh Trump lewat unggahan di Truth Social tak lama setelah perundingan damai AS dan Iran tidak berhasil.
Dalam pernyataan tersebut, Trump menegaskan bahwa kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz akan menjadi target pencegatan dari blokade militers AS.
Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses memblokade setiap dan semua Kapal yang mencoba masuk, atau keluar, Selat Hormuz,”
kata Trump.
Saya juga telah menginstruksikan Angkatan Laut kita untuk mencari dan mencegat setiap kapal di Perairan Internasional yang telah membayar bea masuk kepada Iran. Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan mendapatkan perjalanan aman di laut lepas,”
tambahnya.
Negosiasi Gagal, Ketegangan Meningkat
Trump mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Iran sebenarnya menunjukkan perkembangan positif di beberapa poin, namun belum mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Kegagalan ini memperparah ketegangan yang sebelumnya sudah meningkat di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan memuncak setelah Israel yang didukung AS melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa hingga awal April.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar Israel, serta beberapa negara seperti Yordania, Irak, dan kawasan Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Dalam permintaannya, Iran juga membatasi pergerakan kapal yang melintasi Selat Hormuz. Hal ini lah yang juga memperburuk situasi keamanan di jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada distribusi minyak dan gas global.
Akibat eskalasi konflik, harga minyak sempat mengalami lonjakan tajam karena kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.
Ancaman blokade dari AS dan pembatasan dari Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai titik krusial dalam konflik global saat ini.
Jika situasi terus memburuk, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memicu krisis ekonomi dan energi secara global.



