Salah satu kuil Hindu tersuci di pegunungan Himalaya, Gangotri, mewajibkan para pengunjung meminum air kencing sapi sebagai ujian iman sebelum diizinkan masuk.
Aturan masuk baru untuk kuil yang berlokasi di Uttarakhand tersebut, menuntut pengunjung kuil yang hendak beribadah agar mengonsumsi panchgavya, ramuan ritual yang terbuat dari lima produk turunan sapi, yakni susu, dadih, ghee, madu, dan urin sapi. Tujuannya untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak percaya atau non-Hindu.
Regulasi anyar tersebut diumumkan bertepatan dengan dimulainya ziarah tahunan besar bagi umat Hindu yang disebut Char Dham Yatra. Ziarah ini juga akan menarik jutaan umat ke empat kuil, termasuk kuil Gangotri, yang terletak tinggi di pegunungan Himalaya.
“Ini untuk mencegah orang-orang non-Sanatani dan non-penganut agama Hindu memasuki kuil Gangotari,” kata ketua komite Dharmendra Semwal, dikutip dari The Independent, Rabu, 22 April 2026.
Sanatani merujuk pada Sanatan Dharam, istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk kepercayaan dan praktik Hindu tradisional.
“Orang-orang yang beriman sejati tidak akan mengalami masalah dalam mengonsumsinya. Hanya mereka yang masuk dengan menyamar dan tidak memiliki keyakinan pada agama tersebut yang akan mengalami masalah. Mereka tidak akan diizinkan masuk,” ujarnya.
Selain itu, aturan baru ini akan diterapkan di gerbang tempat petugas kuil yang menyediakan “air suci” kepada para umat sebelum mereka masuk.
“Ini akan memulihkan iman dan spiritualitas dalam diri masyarakat, dan mereka yang berkesempatan untuk menikmatinya harus menganggap diri mereka beruntung,” jelas Semwal.
Para peziarah biasanya mengunjungi kuil Yamunotri terlebih dahulu, kemudian Gangotri, Kedarnath, dan Badrinath secara berurutan. Perjalanan ini melibatkan perjalanan darat yang panjang dan pendakian di sepanjang rute pegunungan yang curam.
Banyak kuil di India menyambut kunjungan dari non-penganut dan wisatawan, petugas biasanya menjelaskan aspek-aspek praktik keagamaan Hindu kepada mereka yang tertarik, tetapi tidak semua kuil bersikap demikian. Sebab pada Maret lalu, Komite Kuil Badrinath-Kedarnath mengeluarkan perintah yang melarang non-Hindu memasuki 47 kuil di bawah pengelolaannya.
Semwal mengatakan para peziarah Char Dham sudah mulai berdatangan, dan sejauh ini belum ada yang keberatan meminum “air suci” yang dicampur dengan air kencing sapi di kuil Gangotri.
Meskipun sapi dianggap suci dalam agama Hindu dan air kencingnya digunakan dalam ritual penyucian, mewajibkan mengonsumsinya dapat menyinggung umat Hindu yang tidak menganut atau merasa tidak nyaman dengan praktik tersebut. Arahan panitia kuil juga menuai kritik karena dianggap “mengasingkan” non-Hindu dan membatasi ruang keagamaan yang secara tradisional inklusif.
Isu konsumsi urin sapi juga memecah belah secara politik karena kelompok-kelompok yang bersekutu dengan partai nasionalis Hindu BJP, pimpinan Perdana Menteri India Narendra Modi, mempromosikannya dengan menyatakan bahwa urin sapi memiliki khasiat pengobatan.
Baba Ramdev, seorang guru yoga yang secara terbuka mendukung BJP, memasok produk-produk yang mengandung urin sapi secara komersial dengan merek Ayurveda miliknya, meskipun ada peringatan dari para ahli kesehatan terhadap klaim kesehatan yang belum terverifikasi.
Anggota partai BJP sering melakukan ritual penyucian menggunakan air kencing sapi, dan selama pandemi COVID-19, mantan kepala unit BJP Bengal Barat menyerukan kepada masyarakat untuk menggunakan air kencing sapi guna meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus. Namun, pernyataan itu memicu peringatan dari para ahli medis bahwa tidak ada dasar ilmiah untuk melakukan hal tersebut.
Belum jelas bagaimana panitia pengelola kuil Char Dham memastikan aturan baru tersebut dipatuhi saat ziarah mencapai puncaknya.

