Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat melangsungkan pertemuan khusus dengan Raja Charles III di Istana St. James, London. Pertemuan strategis di sela-sela London Climate Action Week (LCAW) 2026 ini menjadi momentum bagi diplomasi iklim Indonesia untuk memperkuat posisi di panggung internasional.
Kehadiran Jumhur bukanlah sekadar kunjungan seremonial, ia merupakan satu dari sedikit menteri negara sahabat yang menerima undangan khusus untuk menghadiri Super-pollutant High-level Reception.
“Saya menyampaikan salam paling hangat dari Presiden Prabowo Subianto,”
kata Jumhur, dalam keterangan yang diterima pada Minggu, 28 Juni 2026.
Forum ini mempertemukan para pemimpin dunia dan tokoh pembuat kebijakan guna merumuskan langkah konkret menghadapi ancaman super-polutan dan pemanasan global.
Raja Charles III, yang sejak lama dikenal luas sebagai pelopor gerakan pro lingkungan, memberikan pandangan positifnya terhadap visi pembangunan ramah lingkungan yang tengah diusung oleh pemerintah Indonesia.
“Presiden Prabowo itu baik dan sedang berusaha keras menyejahterakan bangsa juga dengan memelihara keanekaragaman hayati di Indonesia,”
ujar Charles.
Pernyataan Charles ini menjadi indikator kuat bahwa langkah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) terpantau dan diapresiasi oleh komunitas internasional. Merespons hal itu, Jumhur menegaskan komitmen Indonesia yang selaras dengan dukungan Kerajaan Inggris.
“Terima kasih atas dukungan Yang Mulia selama ini terhadap upaya Indonesia dalam melestarikan lingkungan hidup,”
kata Jumhur.
Jejak Panjang
Dialog antara mereka membangkitkan kembali memori panjang kepedulian Raja Charles terhadap alam Nusantara. Jauh sebelum naik takhta, tepatnya pada tahun 2008 saat masih bergelar Pangeran Wales, ia pernah menjejakkan kaki di kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan, Jambi. Kunjungan tersebut menjadi bukti pentingnya perlindungan hutan hujan tropis Indonesia bagi keseimbangan iklim dunia.
Sebagai salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia, peran Indonesia di London sangat krusial. Sepanjang rangkaian LCAW 2026 yang berlangsung sejak 22 hingga 26 Juni, KLH aktif berdialog untuk membedah solusi percepatan aksi iklim.
Agenda yang diusung yakni strategi transisi energi, pelestarian keanekaragaman hayati, hingga pengurangan emisi metana dan karbon hitam dari sektor energi. Keikutsertaan proaktif Indonesia dalam forum ini mengirimkan pesan yang jelas ke dunia.
Di bawah komando KLH, pemerintah tidak hanya berfokus pada kesejahteraan ekonomi, tetapi memastikan keanekaragaman hayati yang merupakan warisan tak ternilai bagi generasi mendatang dan tetap menjadi jantung dari setiap detak pembangunan nasional.
Lupa Sumatra?
Banjir dan longsor besar di Sumatra terjadi pada akhir November 2025 di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Bencana tersebut dipicu oleh cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Banyak kayu gelondongan terbawa bandang.
Kayu yang hanyut terbawa banjir bandang di wilayah Sumatera adalah berupa kayu gelondongan berukuran besar yang diduga berasal dari area Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT) di kawasan penggunaan lain, sisa tebangan hitan, serta pohon tua yang lapuk. Kayu-kayu ini ditemukan dalam jumlah ribuan dan sebagian batangnya memiliki tanda berupa nomor.
Keberadaan nomor forensik pada kayu tersebut menjadi sorotan karena menjadi bukti awal ada dugaan pembalakan liar atau alih fungsi hutan skala besar di daerah hulu.
Kementerian Kehutanan bersama Bareskrim Polri telah memaparkan temuan awal hasil identifikasi forensik terhadap kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang di Garoga, Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Tim gabungan turun langsung ke lapangan melakukan penyisiran, pengukuran, dan pengambilan sampel kayu di sepanjang aliran sungai dan jembatan yang terdampak banjir dan longsor.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut menegaskan bahwa masifnya alih fungsi lahan di Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara menjadi salah satu faktor yang memperparah bencana banjir pada akhir November lalu.

























