Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Internasional

Jenderal Loyalis Netanyahu Peringatkan Israel, AS Tak Bisa Terus Jadi Andalan

Jenderal Dayan bilang Israel harus tetap memiliki keleluasaan untuk mengambil keputusan militer secara mandiri.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama petinggi militer Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama petinggi militer Israel. (Foto: IG Benjamin Netanyahu).

Mayor Jenderal Uzi Dayan, perwira cadangan Israel yang dikenal dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai Israel tengah menghadapi perang yang menyangkut keberlangsungan negaranya.

Dayan juga memperingatkan Israel agar tidak sepenuhnya bergantung pada Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi ancaman dari Iran. Menurutnya, Israel harus tetap memiliki keleluasaan untuk mengambil keputusan militer secara mandiri.

“Israel perlu mempertahankan kebebasan bertindak dalam menanggapi ancaman Iran,” kata Dayan, dikutip dari Middle East Monitor, Kamis, 20 Agustus 2026.

Iklan

Dayan mengatakan Israel tengah mempersiapkan berbagai kemungkinan, termasuk opsi melakukan serangan pendahuluan terhadap Iran. Ia menyampaikan demikian lantaran konflik antara Israel, Iran, dan AS masih belum sepenuhnya mereda setelah berlangsung hampir enam bulan.

Konflik Belum Berakhir

Perang terbuka disebut dimulai pada 28 Februari 2026 ketika Israel dan AS melancarkan serangan udara terhadap Iran. Serangan itu menargetkan program nuklir serta kemampuan rudal Iran.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah sasaran di Israel termasuk pangkalan dan kepentingan AS di kawasan.

Ketegangan sempat menurun setelah muncul sejumlah upaya gencatan senjata dan kesepakatan untuk menghentikan operasi militer. Namun, situasi kembali terganggu oleh serangkaian serangan serta kebuntuan diplomatik.

Persoalan itu turut berkaitan dengan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan energi global.

Pilihan EditorNatania Longdong

Menteri Israel Blak-blakan Serukan 30-40 Warga Palestina Harus Mati Setiap Hari

Pada Juni, Israel dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan rudal dan Udara. Konflik itu setelah Israel menyerang sasaran yang disebut berkaitan dengan Hizbullah di Lebanon.

Iran kemudian merespons dengan serangan terhadap Israel. Lalu, zionis Israel kembali melancarkan serangan terhadap sistem pertahanan strategis Iran.

Kedua pihak akhirnya menghentikan serangan setelah dapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Meski demikian, baik Israel maupun Iran tetap menyatakan akan memberikan respons apabila kembali diserang.

Kekhawatiran Serangan Baru

Memasuki Agustus, konflik itu belum sepenuhnya menemukan penyelesaian. Perundingan mengenai program nuklir Iran dan upaya mencapai kesepakatan baru untuk mengakhiri perang masih menghadapi kebuntuan.

Batas waktu 60 hari untuk pelaksanaan kesepakatan perdamaian yang dicapai pada Juni juga berakhir pada 17 Agustus tanpa kemajuan berarti.

Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan Israel melancarkan serangan langsung terhadap Iran.

Di saat yang sama, Washington menghadapi tekanan untuk menentukan langkah berikutnya, apakah mempertahankan tekanan militer atau kembali mengutamakan jalur diplomatik.

Trump juga mengancam akan memberikan konsekuensi ekonomi berat terhadap negara-negara yang membantu Iran. Sementara itu, konflik dan ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Dalam konteks tersebut, pernyataan Dayan memiliki arti penting dari sisi politik dan militer. Peringatan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa kepentingan keamanan Israel tidak selalu identik dengan kalkulasi strategis Washington.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.