Konflik Iran berpotensi bawa ancaman baru ke jalur perdagangan laut Asia. Laporan media Iran, Iran International menyebut Unit 4000, divisi operasi khusus Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), tengah mengembangkan program untuk memperluas operasi maritimnya hingga perairan Asia Timur.
Menurut sumber Iran International yang dikutip pada Sabtu, 12 September 2026, rencana tersebut disebut mempertimbangkan serangan terhadap sejumlah kapal yang melintasi jalur strategis di Asia mulai dari kapal komersial, militer, hingga kapal milik pribadi.
Selat Malaka dan Selat Bangka disebut jadi bagian dari wilayah yang dipertimbangkan dalam rencana tersebut. Laporan yang sama juga menyebut sejumlah pelabuhan penting sebagai target potensial, termasuk Pelabuhan Tanjung Priok di Indonesia serta Pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di China.
Jika rencana tersebut benar-benar dijalankan, jangkauan tekanan maritim Iran akan meluas jauh dari pusat konflik selama ini. Sebelumnya, aktivitas dan tekanan terhadap pelayaran yang dikaitkan dengan konflik Iran lebih banyak berpusat di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz.
Iran International menyebut kemungkinan operasi di kawasan Asia sebagai upaya untuk mengancam bagian lain dari jaringan perdagangan dan pelayaran energi yang melayani pasar Asia.

Jalur laut Asia memiliki posisi strategis dalam perdagangan global. Kerentanan kawasan semakin besar karena sekitar 80 persen minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia, berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA).
Potensi pelebaran konflik itu juga muncul ketika ketegangan di jalur pelayaran Timur Tengah terus meningkat. Iran disebut berupaya membatasi pelayaran melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran sebelumnya telah mengganggu lalu lintas maritim di sekitar Bab al-Mandab dan Laut Merah.
Ancaman perluasan konflik ke jalur laut yang lebih jauh sebelumnya juga sempat disampaikan pejabat senior Iran.
Dalam laporan Iran International, Mohsen Rezaei, yang saat itu jadi penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, memperingatkan bahwa konflik bisa meluas ke kawasan lain jika perang dan blokade angkatan laut AS terus berlanjut.
Jika perang berlanjut dan blokade angkatan laut tidak dicabut, kita akan menyeret perang ke Samudra Hindia, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Mediterania,”
kata Rezaei seperti dikutip Iran International, pada Sabtu, 12 September 2026.
Pada periode yang hampir bersamaan, Komandan Pasukan Quds Esmail Qaani juga disebut mengatakan bahwa ‘sabuk keamanan’ baru dari apa yang disebut front perlawanan Iran akan membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab dan dari Teluk Persia hingga Laut Merah.
Kini, laporan terbaru Iran International menyebut jangkauan tersebut berpotensi bergerak lebih jauh hingga jalur laut Asia Timur. Wilayah ini mencakup sejumlah perairan dan pelabuhan yang memiliki peran penting dalam arus perdagangan dunia.
Namun, laporan mengenai rencana Unit 4000 tersebut belum dapat dipandang sebagai konfirmasi independen bahwa serangan terhadap kapal maupun pelabuhan di Asia benar-benar akan dilaksanakan.
Dengan demikian, potensi ancaman tersebut masih berada pada level laporan dan dugaan rencana operasi.






