Meningkatnya konflik di lepas pantai barat Yaman membuat lalu lintas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb anjlok tajam. Kondisi ini menambah risiko terhadap salah satu jalur penting yang menghubungkan perdagangan dan logistik global.
Selat Bab el-Mandeb biasanya dilalui rata-rata 33 kapal setiap hari. Namun, data PortWatch dari Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan lalu lintas kapal kini turun 88 persen. Dalam 24 jam terakhir, hanya empat kapal yang tercatat melintasi selat tersebut.
Melansir Middle East Monitor, Jumat, 18 September 2026, penurunan lebih tajam terjadi pada kapal tanker minyak dan kimia. Lalu lintas jenis kapal tersebut merosot 91 persen dengan hanya satu kapal yang tercatat melintas dalam 24 jam terakhir.
Sementara, lalu lintas kapal kontainer juga turun 86 persen dibandingkan rata-rata. Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis dalam perdagangan antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Selat ini juga jadi salah satu rute penting bagi pengiriman berbagai komoditas menuju Asia.
Posisinya membuat Bab el-Mandeb memiliki peran besar dalam perdagangan energi dunia. Sekitar 10 persen perdagangan maritim global dan 12 persen pengiriman minyak mentah disebut melalui jalur tersebut.
Tingkatkan Risiko Pelayaran
Situasi keamanan di sekitar Bab el-Mandeb semakin berubah seiring meningkatnya kembali konflik di Yaman sejak Juli.
Houthi disebut menguasai Provinsi Hodeidah dan bergerak ke arah barat menuju Taiz. Pergerakan tersebut mencakup penguasaan sejumlah kota pesisir di Laut Merah, termasuk Mokha, serta akses menuju kawasan Bab el-Mandeb.
Kelompok Houthi kemudian disebut menguasai Kepulauan Hanish, Pulau Mayun, dan Dhubab yang berada di sekitar selat tersebut.
Penguasaan Pulau Mayun menjadi perhatian karena pulau itu berada di pintu masuk saluran barat Bab el-Mandeb. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko keamanan bagi kapal yang masih menggunakan jalur pelayaran tersebut.
Sejumlah kapal yang tetap melintasi Bab el-Mandeb tercatat mengibarkan bendera Panama, Singapura, Liberia, dan Ethiopia.
Biaya Pengiriman Membengkak
Meningkatnya risiko keamanan mendorong perusahaan pelayaran dan energi kembali mengalihkan sebagian kapal melalui rute yang memutari Tanjung Harapan di Afrika.
Namun, penggunaan rute tersebut memiliki konsekuensi. Perjalanan kapal dapat menjadi lebih panjang hingga berminggu-minggu, sekaligus meningkatkan biaya pengiriman dan premi asuransi.
Gangguan di Bab el-Mandeb juga berpotensi memberikan tekanan baru terhadap pasar minyak global. Analis memperingatkan gangguan berkepanjangan di selat tersebut dapat kembali memicu guncangan pada perdagangan energi dunia.
Kondisi ini jadi semakin penting karena Bab el-Mandeb juga berkaitan dengan efektivitas jalur alternatif pengiriman energi.
Arab Saudi, misalnya, memiliki kemampuan mengirim minyak mentah langsung menuju pelabuhan di Laut Merah melalui Pipa Minyak Mentah Timur-Barat. Jalur tersebut memungkinkan pengiriman menghindari Selat Hormuz.
Namun, minyak yang kemudian diangkut menggunakan kapal tanker dari pelabuhan Laut Merah menuju pasar global melalui rute selatan tetap harus melewati Bab el-Mandeb.
Karena itu, gangguan serius atau blokade di Bab el-Mandeb berpotensi menghambat jalur alternatif yang selama ini digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, yang juga tengah terdampak konflik.
Dengan posisi strategis itu, penurunan tajam lalu lintas kapal di Bab el-Mandeb bukan hanya persoalan pelayaran. Gangguan berkepanjangan dapat merembet ke biaya logistik, perdagangan komoditas, pengiriman energi, hingga pasar minyak global.






