Arab Saudi disebut mengajukan proposal baru kepada kelompok Houthi di Yaman melalui Kesultanan Oman. Proposal itu mencakup gencatan senjata selama dua pekan dan pembukaan pembicaraan langsung antara Riyadh dan pimpinan Houthi.
Menurut surat kabar Lebanon Al Akhbar yang dikutip pada Jumat, 18 September 2026, proposal itu ditujukan untuk membahas tuntutan kemanusiaan Houthi selama masa gencatan senjata. Riyadh kemudian disebut ingin mendorong tercapainya kesepakatan yang lebih luas setelah masa gencatan senjata berakhir.
Seorang sumber mengatakan proposal tersebut dirumuskan setelah Saudi melakukan serangkaian kontak dalam beberapa hari terakhir dengan Amerika Serikat (AS), Mesir, Pakistan, dan Oman.
Riyadh juga disebut ingin memanfaatkan masa tenang untuk membahas pemenuhan seluruh tuntutan kemanusiaan Houthi sebelum mengupayakan kesepakatan komprehensif.
Oman yang selama beberapa tahun berperan sebagai mediator antara Saudi dan Houthi. Kemudian, diminta menyampaikan proposal tersebut kepada pihak Houthi di Sanaa.
Namun, hingga kini belum ada tanggapan final dari pihak Houthi. Saudi juga belum secara resmi mengonfirmasi rincian proposal yang dilaporkan Al Akhbar.
Konflik Saudi-Houthi
Proposal tersebut muncul ketika pertempuran dan ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat.
Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi disebut merebut sejumlah wilayah strategis di sepanjang pantai Laut Merah. Kelompok tersebut juga melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Arab Saudi.
Riyadh menuduh Houthi menyerang fasilitas sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran. Houthi juga dituding mengancam pelayaran komersial di Laut Merah.
Dalam pernyataan resmi pekan lalu, Saudi menyebut 73 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak terluka dalam salah satu gelombang serangan.
Perkembangan di kawasan Laut Merah tersebut juga berdampak pada keamanan jalur perdagangan dan energi. Pasukan Houthi dalam beberapa pekan terakhir memperluas penguasaan di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk wilayah strategis di sekitar Bab el-Mandeb.
Gelar Pembicaraan Rahasia
Di tengah kontak diplomatik tersebut, perwakilan AS dan pejabat senior Houthi disebut menggelar pembicaraan rahasia di Oman pada akhir pekan.
Laporan media internasional melaporkan pertemuan berlangsung di Kedutaan Besar AS di Muscat dengan bantuan pemerintah Oman. Lima sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan pertemuan itu membahas situasi yang semakin memburuk di Yaman dan kawasan Laut Merah.
Dalam pertemuan itu, Houthi disebut menyampaikan bahwa mereka akan tetap menghormati gencatan senjata yang dicapai dengan Washington pada 2025 dan tak berniat menyerang kapal-kapal AS.
Oman selama ini memainkan peran penting sebagai mediator dalam komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik Yaman. Pemerintah Oman juga disebut bantu memfasilitasi pertemuan antara pejabat AS dan Houthi tersebut.
Menurut Al Akhbar, pihak Houthi di Sanaa belum memberikan tanggapan akhir terhadap proposal Saudi.
Houthi masih menuntut penyelesaian yang lebih komprehensif. Hal itu termasuk pengakhiran perang, pencabutan blokade, serta pemenuhan tuntutan kemanusiaan.
Karena itu, proposal gencatan senjata dua pekan tersebut belum bisa dipastikan akan menghasilkan kesepakatan baru. Rencana itu masih bergantung pada respons Houthi dan proses negosiasi yang mungkin berlangsung setelah gencatan senjata disepakati.
Di sisi lain, Saudi juga belum secara resmi mengonfirmasi rincian proposal yang dilaporkan media Lebanon tersebut.
Jika benar terealisasi, gencatan senjata dua pekan akan membuka ruang bagi Riyadh dan Houthi untuk kembali membicarakan tuntutan masing-masing melalui jalur diplomatik, di tengah meningkatnya tekanan terhadap keamanan kawasan dan jalur pelayaran Laut Merah.






