Amerika Serikat (AS) sepakat untuk mendanai studi kelayakan pembangunan jaringan kabel bawah laut baru yang menghubungkan antara Thailand dan akan melewati sejumlah negara Asia Tenggara.

Proyek bernama Thailand-U.S. Submarine Cable System (THUS) ini memiliki rute hingga 11.500 mil atau sekitar 18.507 kilometer yang nantinya akan melewati Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam.

Dengan mendukung penerapan sistem kabel bawah laut yang aman, kami turut menjaga keamanan jaringan sekaligus membuka peluang baru bagi perusahaan-perusahaan AS untuk bersaing di salah satu pasar digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia,”

kata Deputy Director USTDA Thomas R. Hardy, dikutip dari U.S. Trade and Development Agency (USTDA), Rabu, 23 September 2026.

Hardy menjelaskan rute THUS sengaja dirancang untuk menghindari Laut China Selatan dan jalur lain yang dinilai memiliki risiko keamanan. Sistem ini juga ditujukan untuk menggantikan koneksi kabel bawah laut Thailand-AS yang sudah menua.

USTDA juga telah menunjuk APTelecom LLC yang berbasis di Florida untuk melakukan studi kelayakan proyek. Kajian tersebut mencakup aspek teknis, komersial, finansial, desain rute, hingga regulasi.

Hardy menambahkan dukungan AS diarahkan untuk perkuat keamanan jaringan sekaligus buka peluang bagi perusahaan AS di pasar digital Indo-Pasifik.

Presiden National Telecom Public Company Limited Col. Sanpachai Huvanandana menuturkan THUS akan perkuat jaringan internasional Thailand dan mendukung perkembangan sektor digital.

THUS merupakan investasi strategis untuk masa depan digital Thailand,”

ujar Sanpachai.

Menurut Sanpachai, sistem ini diharapkan bisa mendukung pertumbuhan pusat data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan di Thailand. Selain itu, perluas konektivitas ke pasar regional yang mencakup lebih dari 600 juta orang.

Dari laporan The Japan Times menyebut pembangunan THUS sebagai bagian dari upaya AS memperluas perannya dalam infrastruktur kabel bawah laut di tengah persaingan dengan China.

Kabel bawah laut jadi infrastruktur penting karena membawa hampir seluruh lalu lintas internet internasional. Japan Times memperkirakan akan ada lebih dari dua lusin kabel internasional yang dibangun melintasi Pasifik pada 2022-2030, dengan estimasi biaya pembangunan kabel baru mencapai lebih dari 14 miliar dolar AS pada 2025-2027.

Saat ini, proyek THUS masih berada pada tahap studi kelayakan sebelum masuk ke tahap pembangunan.