Sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap sektor penerbangan Iran mulai berdampak langsung terhadap mobilitas warga. Sejumlah maskapai Iran kehilangan akses terhadap layanan bandara dan penerbangan internasional.

Kondisi itu setelah negara-negara lain menghentikan dukungan kepada maskapai yang terkena sanksi.

Dalam laporan Al Jazeera, menyampaikan perjalanan udara bagi warga Iran semakin sulit setelah Washington memperluas sanksi terhadap industri penerbangan negara tersebut.

Departemen Keuangan AS pada 8 September menetapkan sanksi terhadap 27 maskapai Iran yang sebelumnya belum masuk daftar sanksi Washington. Langkah itu merupakan bagian dari kampanye Operation Economic Outcast yang menurut pemerintah AS ditujukan untuk menekan sektor penerbangan Iran.

Nama-nama besar maskapai seperti Iran Air dan Mahan termasuk di antara maskapai yang sudah dikenai sanksi berat, tetapi tetap melanjutkan operasi terbatas,”

demikian laporan Al Jazeera, Kamis, 24 September 2026.

Selain maskapai, sanksi terbaru juga menyasar individu dan entitas yang terkait dengan dukungan serta pengadaan penerbangan di sejumlah negara, termasuk Uni Emirat Arab, Turki, China, India, Inggris Raya dan Malaysia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan perusahaan yang tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran dapat terkena sanksi sekunder.

Bandara dan perusahaan yang menyediakan bahan bakar, layanan pendaratan, atau penjualan tiket untuk pesawat yang dioperasikan Iran berisiko terkena sanksi sekunder AS yang dapat memutus akses mereka ke sistem keuangan AS,”

kata Bessent beberapa hari lalu.

Penerbangan Iran Berguguran

Dampak kebijakan tersebut semakin terasa pada Rabu, 23 September 2026. Berakhirnya masa transisi bagi negara-negara yang masih memberikan layanan kepada maskapai Iran membuat hampir seluruh penerbangan Iran menuju Turki, Uni Emirat Arab dan China dibatalkan.

Sejumlah negara tetangga yang sebelumnya masih memberikan akses wilayah udara maupun layanan bandara kepada maskapai Iran juga mulai menghentikannya. Negara-negara tersebut antara lain Oman, Azerbaijan dan Georgia.

Di Irak, Bandara Baghdad tidak lagi menerima maskapai Iran. Namun, penerbangan menuju Bandara Najaf masih beroperasi.

Kondisi ini membuat sejumlah rute penerbangan Iran menuju pusat transit internasional di Turki dan Uni Emirat Arab ikut terganggu. Sebelumnya, banyak rute tersebut memang telah dihentikan akibat perang dan sanksi.

Maskapai internasional juga sebagian besar menghentikan penerbangan ke Iran. Turkish Airlines menangguhkan penerbangan hingga setidaknya Maret 2027. Sementara, operasi Qatar Airways, Emirates dan Lufthansa ke Iran juga ditangguhkan.

Akibatnya, sebagian warga Iran yang membutuhkan perjalanan internasional mulai mengandalkan jalur darat. Al Jazeera melaporkan kepadatan terjadi di sejumlah perbatasan Iran dengan Turki dan jalur menuju Armenia.

Harga tiket bus menuju Turki bahkan dilaporkan melonjak hingga empat kali lipat di pasar gelap akibat tingginya permintaan.

Penerbangan Iran Tertekan

Pakar penerbangan dan transit yang berbasis di Iran, Mohammadreza Ebrahimpour, mengatakan tekanan terhadap industri penerbangan Iran sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Sanksi AS sebelumnya telah memaksa maskapai Iran mengandalkan negara ketiga serta bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil untuk memperoleh bahan bakar dan layanan operasional.

Kondisi tersebut semakin berat karena maskapai Iran juga menghadapi kesulitan memperoleh suku cadang untuk mempertahankan pesawat-pesawat yang telah berusia tua.

Namun, keputusan otoritas penerbangan di negara-negara tetangga untuk secara resmi menolak layanan kepada maskapai penerbangan Iran merupakan tingkat sanksi baru yang diterapkan yang dapat memiliki konsekuensi jangka panjang,”

kata Ebrahimpour.

Menurut dia, AS juga secara efektif membatasi maskapai internasional untuk menggunakan wilayah udara Iran melalui pembatasan izin penerbangan tertentu dan pembayaran penerbangan lintas wilayah yang berkaitan dengan AS.

Ini merupakan pukulan besar karena pembayaran untuk penerbangan lintas wilayah adalah salah satu bagian paling menguntungkan dari industri penerbangan (Iran), yang dapat berfungsi sebagai pendukung pengembangan infrastruktur dan industri secara keseluruhan,”

tutur Ebrahimpour.

Ia mengatakan Iran memperoleh lebih dari 300 juta dolar AS per tahun dari pendapatan penerbangan lintas wilayah tersebut.

Dampak sanksi tidak hanya dirasakan penumpang. Ebrahimpour memperingatkan kebijakan tersebut juga dapat memukul puluhan ribu lapangan kerja di sektor penerbangan dan industri terkait, termasuk pariwisata dan perhotelan.

Gangguan penerbangan juga berpotensi memengaruhi arus barang yang selama ini masuk melalui jalur udara. Al Jazeera melaporkan sejumlah barang impor, termasuk sebagian pasokan medis, turut mengandalkan transportasi udara sehingga pembatasan penerbangan dapat menambah tekanan terhadap rantai pasok Iran.

Ebrahimpour menilai Badan Penerbangan Sipil Internasional dan organisasi lainnya selama bertahun-tahun belum memberikan perlindungan nyata terhadap industri penerbangan Iran yang terdampak sanksi.

Di tengah kondisi tersebut, otoritas Iran disebut kemungkinan akan mencari dukungan dari China dan Rusia. Kedua negara tersebut menolak sanksi AS terhadap Iran.

Namun, sejumlah jaringan keuangan dan perusahaan China maupun Rusia yang memiliki keterhubungan dengan pasar global pada waktu tertentu juga mengambil jarak dari Iran untuk menghindari risiko sanksi sekunder AS.