Kelompok pejuang Palestina Hamas mengecam sikap Board of Peace (BoP) terkait keterlibatan Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) dalam penanganan Gaza.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menilai keputusan BoP untuk tidak bekerja sama dengan UNRWA menunjukkan keselarasan dengan posisi Israel. Pernyataan tersebut muncul setelah BoP menyatakan UNRWA tidak memenuhi kriteria sebagai mitra yang akan mereka ajak bekerja sama di Gaza.
Kami hanya akan bekerja sama dengan mitra tepercaya yang mampu memberikan hasil nyata bagi penduduk Gaza dan berkontribusi pada wilayah Jalur Gaza yang terderadikalisasi,”
demikian pernyataan BoP di platform X yang dikutip dari Aljazeera, Minggu, 27 September 2026.
Pernyataan itu kemudian mendapat kecaman dari Hamas. Qassem menyebut keputusan tersebut sebagai penyelarasan penuh dengan posisi Zionis Israel.
Menurutnya, cara badan yang dibentuk Presiden AS Donald Trump itu bertujuan menghentikan operasi UNRWA. Salah satunya agar mencegah UNRWA menyalurkan bantuan kepada warga Palestina, serta menghapuskan hak untuk kembali bagi pengungsi.
Hamas Kritik BoP
Qassem juga mempertanyakan sikap BoP yang disebut mengambil posisi terhadap UNRWA. Sementara, kondisi kemanusiaan di Gaza masih jadi perhatian.
Dalam pernyataannya, Qassem menyebut aneh bagi Peace Council untuk mengambil sikap bermusuhan terhadap UNRWA. Sementara, di saat yang sama gagal memberikan bantuan ke Gaza atau mendesak pihak pendudukan untuk mematuhi kesepakatan gencatan senjata dan menghentikan pembunuhan warga Palestina setiap hari di wilayah tersebut.
UNRWA didirikan pada 1949 dan selama puluhan tahun memberikan layanan bantuan, pendidikan, serta layanan lainnya kepada pengungsi Palestina.
Bagi warga Palestina, keberadaan UNRWA juga berkaitan dengan isu hak kembali para pengungsi. Sementara, Israel sudah lama menyerukan pembubaran badan tersebut.
Di tengah pernyataan keras tersebut, laporan Al Jazeera menyebut ada indikasi bahwa sejumlah anggota BoP masih buka kemungkinan bekerja sama dengan UNRWA secara langsung maupun di balik layar.
Dalam pengarahan BoP kepada Majelis Umum PBB, sejumlah badan PBB disebut sebagai mitra. Namun, UNRWA tak termasuk di dalamnya.
Namun, seorang pejabat BoP yang berbicara kepada Associated Press (AP) dengan syarat anonim mengonfirmasi bahwa anggota dewan telah beberapa kali bertemu dengan pejabat UNRWA.

Pejabat tersebut mengatakan program UNRWA bisa terus berjalan apabila memberikan manfaat bagi penduduk Gaza. Namun, ia tetap menyatakan bahwa masa ‘kejayaan’ UNRWA sudah berakhir.
Philippe Lazzarini, yang memimpin UNRWA hingga awal tahun ini, menyampaikan bahwa anggota komite teknokratis Palestina yang ditunjuk untuk mengelola Gaza justru ingin bekerja sama dengan badan tersebut.
Lazzarini sebelumnya juga mengkritik kinerja BoP. Dalam unggahan di X pada Kamis, ia menuduh otoritas Israel masih menghalangi masuknya bantuan dasar ke Gaza.
Membuat rencana muluk-muluk adalah keahlian Dewan Perdamaian. Namun, rencana saja tidak akan menghangatkan warga Gaza di musim dingin ini,”
tulis Lazzarini.
Dia pun mendesak agar akses perbatasan menuju Gaza dibuka dan pasokan diizinkan masuk dalam skala besar.
Persoalan bantuan jadi bagian penting dalam pembahasan mengenai masa depan Gaza. Pada 23 September, BoP memaparkan rencana rekonstruksi senilai sekitar 2,4 miliar dolar AS untuk tahap awal. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Di tengah perdebatan mengenai tata kelola dan bantuan Gaza, laporan mengenai kekerasan terhadap warga Palestina juga masih muncul.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel menewaskan tujuh warga Palestina di berbagai wilayah Jalur Gaza dalam 48 jam terakhir, termasuk seorang warga yang meninggal akibat luka yang diderita sebelumnya.
Di Gaza utara, pasukan Israel dilaporkan menembak seorang warga Palestina di Jabalia. Kantor berita Palestina Wafa juga melaporkan serangan drone di sekitar Jalan Joulis dan Menara al-Nouri di kamp pengungsi Nuseirat yang menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.
Di al-Mawasi, Khan Younis, serangan drone dilaporkan melukai sejumlah warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan. Artileri Israel juga dilaporkan membombardir wilayah di sebelah timur kota tersebut.
Sebuah quadcopter Israel dilaporkan melepaskan tembakan di Jalan Salah al-Din di Gaza tengah dan melukai tiga orang, termasuk seorang anak perempuan.
Situasi di Tepi Barat
Ketegangan juga dilaporkan berlanjut di Tepi Barat yang diduduki. Laporan Wafa, pasukan Israel menyerbu Universitas Birzeit di Ramallah dan menggerebek salah satu gedung ketika mahasiswa sedang menjalani ujian akhir.
Di Tulkarem, pasukan Israel dilaporkan menangkap Bashar Odeh setelah menggerebek rumahnya di Shuweika. Penggeledahan juga dilakukan di sejumlah rumah di Zeita.
Adapun di wilayah kegubernuran Bethlehem, gerbang militer yang menjadi akses menuju sejumlah desa di bagian barat ditutup sehingga menghambat mobilitas warga, termasuk pejalan kaki.
Penggerebekan juga dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi lain termasuk kamp pengungsi Qalandiya dan Am’ari.






