Penyelidikan di Irak mulai mengungkap dugaan jaringan di balik serangan drone terhadap jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi pada awal September 2026.

Investigasi tersebut menemukan dugaan keterlibatan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan kelompok Houthi Yaman dalam serangan yang diluncurkan dari wilayah Irak menuju Arab Saudi.

Melansir The New Arab, Selasa, 29 September 2026, tiga pejabat Irak mengatakan lebih dari 15 drone bermuatan bahan peledak diluncurkan secara bersamaan dari kawasan perbatasan Al-Tayyib, Maysan, Irak selatan, pada 10 September 2026.

Temuan itu perkuat dugaan bahwa wilayah Irak digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap sasaran di Arab Saudi. Menurut para pejabat Irak, orang-orang yang terlibat dalam operasi tersebut diduga memasuki Irak secara ilegal dari Iran beberapa hari sebelum serangan.

Mereka kemudian menuju kawasan Al-Tayyib untuk mempersiapkan drone sebelum diluncurkan ke arah Arab Saudi.

Setelah operasi dilakukan, para pelaku diduga kembali ke Iran melalui jalur perbatasan tidak resmi. Proses tersebut disebut mendapat bantuan dari sejumlah sel yang berada di dalam wilayah Irak.

Penyelidikan Irak juga menemukan dugaan keterkaitan kelompok Irak yang membantu operasi tersebut dengan faksi bersenjata yang telah dikenal dan disebut memiliki koordinasi dengan Houthi.

Perintahkan Penyelidikan

Serangan tersebut sebelumnya telah dikonfirmasi Baghdad berasal dari wilayah Maysan. Peristiwa itu kemudian mendorong Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi mengambil langkah terhadap jajaran keamanan setempat.

Al-Zaidi memecat komandan operasi provinsi dan memerintahkan penyelidikan terhadap kepemimpinan keamanan di wilayah tersebut.

Sementara itu, Arab Saudi menutup jalur pipa minyak Timur-Barat setelah serangan. Peristiwa tersebut dilaporkan menyebabkan korban luka dan kerusakan.

Penyelidikan Irak kini disebut telah memasuki tahap akhir. Hasilnya akan diserahkan kepada al-Zaidi setelah seluruh prosedur teknis dan keamanan yang masih tersisa diselesaikan.

Seorang komandan senior tentara Irak mengatakan penyelidik telah mengumpulkan sejumlah bukti lapangan dan informasi intelijen.

Bukti tersebut antara lain berkaitan dengan lokasi peluncuran drone, pergerakan orang-orang yang terlibat, serta jalur yang digunakan untuk memindahkan peralatan dalam operasi tersebut.

Pejabat keamanan Irak lainnya mengatakan hasil penyelidikan menguatkan dugaan bahwa para pelaku masuk dari Iran beberapa hari sebelum serangan.

Mereka kemudian menuju Al-Tayyib, menyiapkan drone di kawasan tersebut, lalu meluncurkannya menuju Arab Saudi.

Setelah itu, para pelaku diduga kembali memasuki Iran melalui jalur di luar pos perbatasan resmi dengan bantuan jaringan di Irak.