Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Internasional

Trump Kalah Telak, Iran Langsung Terbelah: Mau Berdamai dengan AS atau Tutup Selat Hormuz?

Kekalahan telak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pemilu sela memunculkan perdebatan panas di Iran.

Pidato Donald Trump
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Owrite/Acel).

Kekalahan telak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pemilihan paruh waktu atau pemilu sela memunculkan perdebatan di Iran. Pemerintah Teheran kini dihadapkan pada dua pilihan strategis.

Menukil dari Iran International, Sabtu, 7 November 2026, dua pilihan strategis itu yakni Iran mesti memanfaatkan melemahnya posisi politik Trump untuk membuka negosiasi dengan Washington. Pilihan kedua, Iran tetap mempertahankan tekanan melalui kendalinya atas Selat Hormuz.

Perbedaan pandangan itu mencuat di berbagai media Iran, mulai dari kelompok reformis, konservatif pragmatis, hingga media garis keras. Sebagian kalangan mendesak pemerintah segera mengambil peluang diplomatik untuk memperoleh konsesi ekonomi dari AS.

Iklan

Namun, kelompok lain menilai pengaruh Iran di jalur pelayaran strategis tersebut harus tetap dipertahankan sebagai alat tawar terhadap Washington.

Perdebatan itu berlangsung ketika Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Inflasi mendekati tiga digit. Kondisi industri mengalami kekurangan pasokan. Sementara, pembatasan pengiriman barang melalui jalur laut turut mengganggu ketersediaan kebutuhan penting di dalam negeri.

Surat kabar reformis Shargh menyoroti kondisi ekonomi tersebut. Media itu mengulas usulan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk menerapkan langkah-langkah de-eskalasi di Selat Hormuz dalam waktu dua hari.

Pandangan serupa disampaikan Khorasan, surat kabar konservatif pragmatis yang dekat dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Khorasan mendorong penyelesaian melalui negosiasi. Namun, meminta agar mekanisme dua hari yang diusulkan tetap berada di bawah pengawasan parlemen.

Dukungan untuk menjajaki kesepakatan dengan Washington pun terlihat tak hanya datang dari kubu reformis. Sejumlah media konservatif pragmatis juga mulai menilai diplomasi sebagai jalan untuk meredakan tekanan ekonomi yang membebani Iran.

Selamatkan ekonomi Iran

Sobh-e No, surat kabar konservatif lain yang bersekutu dengan Ghalibaf, menilai kekalahan Trump harus dimanfaatkan Teheran. Laporan Sobh-e No agar Teheran bisa memperoleh komitmen ekonomi yang mengikat dari Washington.

Bahkan, Hamshahri, media milik Pemerintah Kota Teheran yang berafiliasi kelompok garis keras turut mengulas laporan yang mendesak langkah diplomatik segera. Media itu memperingatkan potensi gangguan pelayaran di Teluk Persia yang sudah membebani rantai pasokan domestik. Kondisi itu ikut mendorong kenaikan harga pangan.

Tekanan terhadap sektor ekonomi Iran semakin besar setelah blokade angkatan laut Amerika Serikat memperburuk aktivitas perdagangan negara tersebut. Kebijakan itu secara efektif menghentikan ekspor minyak Iran sekaligus mengganggu lalu lintas perdagangan maritim lainnya.

Berdasarkan data perusahaan analisis pengiriman Kpler, Iran belum memuat minyak untuk keperluan ekspor sejak pertengahan Agustus.

Kondisi itu perkuat pandangan bahwa pengaruh Iran di Selat Hormuz sebaiknya dimanfaatkan untuk memperoleh keringanan ekonomi dalam waktu dekat. Pasalnya, sebagian kalangan menilai tekanan maritim tak harus dipertahankan tanpa batas jika peluang untuk mendapatkan konsesi melalui negosiasi terbuka.

Meski dorongan untuk berunding semakin terdengar, kelompok garis keras Iran belum menunjukkan keinginan mengubah strategi terhadap Washington.

Surat kabar Kayhan menilai perubahan keseimbangan politik di AS tidak memengaruhi apa yang mereka sebut sebagai ‘dominasi operasional’ Iran di Selat Hormuz.

Laporan Javan juga berpandangan Teheran mesti terus memanfaatkan jalur perairan strategis tersebut untuk menekan Washington. Hal itu tanpa mempersoalkan partai yang menguasai Kongres AS.

Adapun menilai hasil pemilu sela tak mengubah kemampuan Iran untuk membatasi lalu lintas maritim maupun persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses de-eskalasi.

Trump Tertekan

Sejumlah komentar konservatif bahkan menafsirkan langkah diplomatik Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance sebagai tanda bahwa pemerintahan Trump sedang menghadapi tekanan akibat tingginya harga energi dan kesulitan mengamankan lalu lintas pelayaran.

Dalam pandangan kelompok ini, kekalahan elektoral Trump justru memperlihatkan kerentanan posisi Washington. Maka itu, Teheran dinilai tak punya alasan kuat untuk melunakkan tuntutannya.

Di tengah perbedaan pandangan tersebut, sejumlah media konservatif lainnya mengingatkan pemerintah Iran agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari hasil pemilihan di Amerika Serikat.

Resalat memperingatkan bahwa kekalahan Trump tidak serta-merta mengubah kebijakan Washington terhadap Teheran. Media tersebut menilai AS tetap jadi mitra negosiasi yang tak dapat diandalkan, terlepas dari partai yang menguasai Kongres.

Di luar perdebatan mengenai strategi menghadapi AS, Teheran juga terus membangun komunikasi diplomatik dengan negara lain.

Pada Kamis, 5 November 2026, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Dalam pertemuan itu, Rezaei menyampaikan pesan khusus dari Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Perbedaan sikap di dalam negeri para mullah itu memperlihatkan dilema yang sedang dihadapi para pembuat kebijakan Iran. Kekalahan Trump bisa jadi kesempatan untuk menekan Washington agar memberikan konsesi ekonomi melalui jalur diplomasi.

Namun, mempertahankan kendali atas Selat Hormuz juga dipandang sebagai instrumen penting untuk memperkuat posisi tawar Iran.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal