Warga Kaliabang Bahagia di Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, tengah mengalami situasi yang tidak nyaman. Pasalnya sejak tiga minggu terakhir muncul fenomena debu hitam.
Debu hitam itu berasal dari aktivitas pembakaran industri yang menggunakan batu bara dengan cerobong asap. Asap tersebut menyebabkan debu di perumahan warga.
Ahli Kesehatan Lingkungan dari Universitas Griffith, Australia, dr Dicky Budiman meminta kepada pemerintah daerah untuk berkoordinasi dengan pihak pabrik agar menghentikan atau mengurangi aktivitas pembakaran. Pasalnya, debu hitam tersebut bisa menyebabkan penyakit pernafasan dan kulit.
Ada risiko nyata baik untuk efek akut ya berupa iritasi, bronkitis, atau ekstraserbasi asma, maupun efek kronik lainnya. Kalau pembakarannya berulang berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bisa menyebabkan penyakit penurunan fungsi paru, kordiofaskuler, atau bahkan potensi karsinogenik ya dalam jangka yang tentu panjang,”
ujar dr Dicky saat dihubungi melalui pesan singkat, Senin (17/11/2025).
Dokter Dicky menjelaskan debu hitam yang berasal dari pembakaran seperti batubara cenderung mengandung PM5 dan juga PM10, black carbon dan juga kontaminan organik seperti polisiklik aromatik hidrokarbon, atau bahkan logam berat seperti FE ya, mangan, nikel, atau PB dan kadmium.
Debu halus ini bisa menembus jauh ke saluran nafas dan bahkan darah. Dan paparan pernafasan jangka pendek ini yang bisa menyebabkan batuk nafas sesak, iritasi mata, hidung tenggorok, bahkan eksaserbasi asma, dan infeksi saluran nafas atas. Paparan kronis jangka lama, ada peningkatan risiko penyakit paru kronik, stroke, penyakit jantung, dan kemungkinan peningkatan risiko kanker paru,”
bebernya.
Selain masalah pernapasan, debu hitam itu juga menyebabkan masalah pada kulit. Kulit bisa menimbulkan iritasi, kontak dermatitis, hyperpigmentasi, atau memperburuk kondisi kulit yang terganggu.
Misalnya jerawatan, apnea, atau eksim. Ini yang tentu jadi memberat kondisinya,”
katanya.
Lantas apa yang harus dilakukan? Dokter Dicky menyarankan kepada masyarakat untuk melakukukan pembersihan basah atau wet cleaning.
Gunakan lap basah atau vakum agar tidak mengangkat kembali partikel ke udara. Kemudian ketika melakukan itu (bersih-bersih) ya juga saat sehari-hari pakai masker N95. Tutup jendela atau ventilasi ketika debu turun gunakan pembersih udara dengan filter HEPA kalau ada,”
ucapnya.
Selain itu juga dr Dicky menyarankan ketika debu muncul sebaiknya jangan membuka jendela. Bersihkan kulit dengan air dan sabun setelah pulang ke rumah, serta pakaian luar yang terpapar.
Perlu juga memeriksakan diri, khususnya pada anak, lansia, ibu hamil, atau orang dengan komorbid,”
katanya.
