Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan perkembangan situasi penyakit Hantavirus di Indonesia tahun 2024-2026. Menurut data, selama hampir dua tahun terakhir, sudah ada 23 kasus yang terkonfirmasi.
Semua kasus yang terkonfirmasi mengarah ke jenis virus Haemorrhagic Fever with Renal Syndrom atau strain seoul virus, bukan jenis andes virus seperti yang terkonfirmasi pada wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Kasus jenis seoul virus ini paling banyak teridentifikasi di tahun 2025, dengan 17 kasus. Sementara pada 2024 hanya satu kasus. Sedangkan pada 2026, sejauh ini tercatat penambahan lima kasus.
Adapun sembilan sebaran wilayah Hantavirus, antara lain:
- Yogyakarta
- Jawa Barat
- DKI Jakarta
- Sulawesi Utara
- NTT
- Sumatera Barat
- Banten
- Jawa Timur
- Kalimantan Barat.
251 kasus suspek, 23 positif dan 20 lainnya sembuh, tiga meninggal dunia, dan 223 negatif,” demikian konfirmasi Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Aji Muhawarman, Jumat, 8 Mei 2026.
Imbauan ke Masyarakat
Kemenkes pun memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap tenang di tengah ramainya isu Hantavirus.
- Cuci tangan pakai sabun atau menggunakan hand sanitizer, terapkan etika batuk dan bersin
- Menghindari kontak langsung dengan reservoir, yakni tikus atau celurut, termasuk kotorannya
- Membiasakan pembersihan rumah dengan metode wet cleaning
- Menyimpan makanan atau minuman dengan aman menggunakan tudung saji atau wadah tertutup
- Menutup semua lubang di dalam maupun luar rumah untuk mencegah reservoir masuk ke dalam rumah
- Menghindari kontak dengan sumber infeksi, termasuk saat berwisata
- Segera periksa diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit virushanta
- Patuhi imbauan kesehatan di negara tujuan saat melakukan perjalanan.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan virus yang disebabkan oleh orthohantavirus. Terdapat 50 strain orthohantavirus dan di antaranya 24 strain yang dapat menginfeksi manusia, yaitu seoul virus, hantaan virus, andes virus, sin nombre virus, dan masih banyak lagi.
Penularan
Hantavirus menular melalui kontak langsung dengan reservoir seperti tikus dan celurut. Individu akan terinfeksi melalui gigitan, eksresi dan sekresi, atau melalui inhalasi aerosol.
Penularan antar manusia jarang terjadi, dilaporkan terbatas hanya pada tipe HPS di Amerika selatan.
Faktor Risiko
Adapun beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan penularan dari virus ini, yakni:
- Pekerjaan yang berkaitan dengan kontak tikus, seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, pekerja lab yang menangani reservoir.
- Aktivitas di area berisiko, seperti gudang lama, area terbengkalai, dan ruang bawah tanah.
- Wilayah dengan populasi tinggi tikus atau curah hujan tinggi.
- Kontak dengan sumber infeksi yang berkaitan dengan hobi olahraga dan wisata, seperti naik gunung, berkemah, dan lain-lain.
Gejala dan Tanda
Terdapat dua bentuk klinis, yakni:
- Haemorrhagic Fever With Renal Syndrom (HFRS), gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan tubuh menguning. Masa inkubasi pada penularan virus ini adalah 1-2 minggu.
- Hanta Pulmonary Syndrom (HPS), gejalanya adalah demam, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas. Masa inkubasi virus ini 14-17 hari.



