Epidemiolog Griffith University, dr Dicky Budiman, M.Sc.PH mengatakan Indonesia berpotensi terpapar virus Nipah. Salah satunya karena faktor sosial budaya.
Pada kelompok masyarakat tertentu pergi ke hutan, kontak dengan kelelawar, makan buah di hutan yang terkena kotoran dari kelelawar atau lain sebagainya. Ini hal yang terjadi di banyak tempat, khususnya negara miskin atau menenggah, seperti Indonesia. Dengan kata lain, potensi itu ada di Indonesia juga,”
ujar dr Dicky kepada owrite baru-baru ini.
Dokter Dicky menjelaskan virus Nipah berasal dari hasil interaksi kompleks antara perubahan ekosistem, deforestasi, urbanisasi, dan akibat perilaku manusia dengan pola konsumsi yang tidak sehat, keamanan pangannya rendah, peternakan.
Dalam hal ini biosecurity-nya rendah, mobilitas manusianya tinggi. Kemudian juga sistem kesehatan yang lemah. Jadi deteksi dingin juga lemah, termasuk infection control di fasilitas kesehatan yang lemah,”
jelasnya.
Dokter Dicky menyebut Nipah sebagai penyakit sentinel atau penyakit penanda krisis “Satu Kesehatan” (One Health), di mana keseimbangan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sudah terganggu.
Nipah adalah alarm bahwa sistem kita sedang tidak baik-baik saja,”
katanya.
Menurut dr Dicky, bahaya utama dari Nipah adalah sifatnya yang sering muncul secara senyap. Gejala awal infeksi kerap tidak spesifik dan menyerupai penyakit umum seperti flu, tifoid, atau demam berdarah, sehingga banyak kasus tidak terdeteksi sejak dini.
Selain itu juga sistem surveillance, khususnya terhadap terhadap kasus ensefalitis atau radang otak akibat virus baru.
Kemudian juga diagnosisnya sering terlambat, karena fatalitas yang tinggi, kematian terjadi. Risiko terbesarnya adalah adanya outbreak kecil, tapi mematikan. Jadi bukan lonjakan kasus besar gitu,”
jelasnya.
Meski penularannya tidak seefisien virus pernapasan seperti COVID-19, Nipah tetap berbahaya pada kontak erat melalui cairan tubuh.
Tempat penularan paling besar biasanya di rumah sakit, sebagaimana terjadi pada sejumlah klaster Nipah di India dan Bangladesh yang berawal dari pasien yang tidak terdeteksi.
Tingkat kematian kasus Nipah tergolong tinggi, berkisar 40 hingga 75%. Tingginya fatalitas ini bukan hanya disebabkan oleh keganasan virus, tetapi juga karena belum tersedianya antivirus maupun vaksin. Penyakit ini menyerang otak dan dapat meninggalkan gangguan saraf jangka panjang pada penyintas,”
pungkasnya.
